MEA 2016, Ini yang Harus Dilakukan Industri Jamu

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mencium aroma jamu tradisional pada pameran industri kosmetik dan jamu di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 1 September 2015. Kinerja industri obat tradisional dan jamu sepanjang semester pertama stagnan dibandingkan semester lalu yang nilainya berkisar Rp 3 triliun. Salah satu faktor penyebabnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    Pengunjung mencium aroma jamu tradisional pada pameran industri kosmetik dan jamu di Kementerian Perindustrian, Jakarta, 1 September 2015. Kinerja industri obat tradisional dan jamu sepanjang semester pertama stagnan dibandingkan semester lalu yang nilainya berkisar Rp 3 triliun. Salah satu faktor penyebabnya adalah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.COBekasi - Ketua Gabungan Pengusaha Jamu Indonesia Dwi Ranny Pertiwi Zarman mengatakan di Indonesia ada ratusan ribu merek jamu yang diproduksi sekitar 700 perusahaan. Namun hanya 200 perusahaan yang mampu bersaing di dunia internasional. "Mereka adalah perusahaan besar," kata Ranny, Selasa, 4 Januari 2016. Mereka ini yang berpeluang memenangkan kompetisi regional yang dibuka dengan pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) per 1 Januari 2016 lalu.

    Ranny mengakui selama ini perusahaan-perusahaan kecil kesulitan memasarkan produknya di luar negeri. Produk mereka tak memenuhi persyaratan good manufacturing practice (GMP) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan. Sedangkan yang sudah bisa diekspor tak selalu bisa masuk negara tertentu lantaran negara itu memproteksi diri. "Negara itu tak ingin ada produk lain masuk dengan membuat peraturan yang sangat ketat," katanya. 

    Menurut Ranny, Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, dan Badan Pengembangan Ekspor Nasional turut membantu memasarkan produk jamu semaksimal mungkin. GP Jamu bertekad menggenjot pasar dalam negeri dengan mensosialisasikan kepada masyarakat agar menggunakan produk dalam negeri. "Di Jepang, mereka fanatik sekali dengan produksi dalam negeri." 

    Ranny menambahkan, tren industri jamu Indonesia terus mengalami peningkatan. Dalam setahun terakhir, omzet penjualan jamu mencapai Rp 15 triliun. Ia optimistis omzet terus mengalami peningkatan setiap tahun, dengan catatan pengusaha selalu menjaga kualitas produksinya. 

    Menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN, Ranny berharap dukungan pemerintah dalam memasarkan produk jamu dalam negeri. "Dukungan pemerintah dan media-media untuk selalu menuliskan slogan ‘pakailah produk dalam negeri’ harus maksimal." 

    ADI WARSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.