Begini Kisah Riset Pengobatan Ginjal di Indonesia

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasien ginjal, Jit Bahadur Gurung (43), menerima perawatan dialisis di Pusat Ginjal Nasional, di Katmandu, Nepal, 4 November 2014. Selama hampir dua tahun, Gurung, yang merupakan agen tenaga kerja, telah mendapatkan perawatan dialisis. Dia harus datang dua kali seminggu selama empat jam dan membayar sekitar $ 360 dollar per-bulan untuk pengobatan. AP/Niranjan Shrestha

    Pasien ginjal, Jit Bahadur Gurung (43), menerima perawatan dialisis di Pusat Ginjal Nasional, di Katmandu, Nepal, 4 November 2014. Selama hampir dua tahun, Gurung, yang merupakan agen tenaga kerja, telah mendapatkan perawatan dialisis. Dia harus datang dua kali seminggu selama empat jam dan membayar sekitar $ 360 dollar per-bulan untuk pengobatan. AP/Niranjan Shrestha

    TEMPO.CO, Bandung - Penelitian sel hormon ginjal oleh Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah berjalan 10 tahun. Sejak 2004-2005, LIPI menunjuk peneliti ahli Adi Susanto untuk mengembangkan   erythropoietin (EPO) sebagai pengobatan pasien anemia berat akibat gagal ginjal kronis dan kemoterapi. Risetnya sempat bersifat futuristik.

    Sepulang pendidikan dari Amerika Serikat tentang virus tanaman, Adi diminta LIPI untuk membuat erythropoietin (EPO), suatu hormon dari ginjal yang merangsang pembentukan sel-sel darah merah. Pada penderita gagal ginjal misalnya, sel-sel organ tersebut tidak dapat menghasilkan EPO dalam jumlah cukup. Kemoterapi pada pasien juga mengurangi pertumbuhan EPO dalam tubuh.

    Adi mengaku awalnya buta soal riset dasar itu. Bekerja sendiri meneliti, ia menguji untuk mendapatkan EPO dari tumbuhan. Walau terbukti bisa, hasilnya dinilai kurang cukup untuk kebutuhan pasien. "Itu terlalu futuristik, harusnya riset tetap dekat dengan yang mainstream supaya tidak jadi paper saja," ujarnya di Bandung, Senin, 28 Desember 2015.

    Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Umar Anggara Djenie yang ikut terlibat dalam riset tersebut mengatakan, pada masa 2004-2005 ketika penelitian EPO dirintis, tengah berkembang teknologi pertanian molekuler. "Maksudnya (diadakan riset untuk menemukan--) obat-obatan dari dalam tubuh seperti EPO itu, apakah bisa dihasilkan dari tanaman," katanya.   LIPI pun pada 2006 bekerjasama dengan Jerman untuk mengembangkan topik riset tersebut.  

    Berjalan empat tahun hingga 2008, mereka akhirnya beralih ke sel hingga akhirnya bisa mendapatkan formula EPO yang disebut generasi pertama, mengikuti industri obat negara maju yang telah membuat lebih dulu.
    Sejak 2013 hingga 2015, Adi dibantu peneliti farmasi dari Universitas Gadjah Mada mengembangkan EPO generasi kedua. Agar lebih cepat, LIPI menggandeng mitra riset dengan PT Bio Farma untuk melanjutkan tahapan riset selanjutnya.

    EPO generasi kedua Darbepoetin Alfa, kata Adi Santoso, memiliki beberapa keunggulan. Utamanya yakni waktu paruh yang lebih lama daripada EPO generasi pertama di laboratorium riset LIPI. “Jadi kalau biasanya pasien diberi EPO dua kali, nanti cukup sekali saja seminggu,” katanya. Jika lolos pada tahapan riset selanjutnya, EPO bikinan dalam negeri itu bakal menekan biaya pengobatan. Produk impor sejenis belum masuk Indonesia karena harganya sangat mahal.

    Saat ini pasien gagal ginjal kronis, anemia, dan kemoterapi memakai EPO generasi pertama sebanyak dua kali per minggu. Pada pasien gagal ginjal dengan cuci darah dengan berat tubuh 55 kilogram misalnya kata Adi, biaya pengobatan EPO impor itu sebesar Rp 40 juta per bulan.

    Direktur Perencanaan dan Pengembangan PT Bio Farma Sugeng Raharso mengatakan, EPO generasi kedua sekarang ini baru memasuki tahap awal dari 9 tingkat riset hingga pengujiannya pada manusia. Perlu waktu sekitar 4 tahun lagi untuk riset lanjutan. "Biaya yang diperlukan sekitar Rp 60 miliar," ujarnya.

    ANWAR SISWADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Upaya Pemerintah Mengolah Sampah Menjadi Bahan Baku PLTSa

    Pemerintah berupaya mengurangi persoalan sampah dengan cara mengolahnya menjadi energi penggerak PLTSa di duabelas kota di Indonesia.