Menteri Khofifah: Kami Kesulitan Petakan Gangguan Mental

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penderita psikotik (gangguan jiwa), mengikuti acara Pelepasan Ex Psikotik di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih Surabaya, (4/2). ANTARA/Eric Ireng

    Sejumlah penderita psikotik (gangguan jiwa), mengikuti acara Pelepasan Ex Psikotik di Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos) Keputih Surabaya, (4/2). ANTARA/Eric Ireng

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Sosial kesulitan memetakan penyandang disabilitas mental dan gangguan psikotik. "Masih banyak anggota keluarga yang menyembunyikan keadaan tersebut," kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa di gedung Aneka Bhakti, Jakarta Pusat, Senin, 28 Desember 2015.

    Menurut dia, banyak keluarga malu dengan gangguan psikotik atau disabilitas mental yang dialami salah satu anggota keluarganya tersebut. Keluarga, kata dia, seharusnya lebih terbuka bila salah satu anggota keluarganya menyandang disabilitas mental atau gangguan psikotik tersebut sehingga pemerintah bisa memberikan bantuan.

    Tahun depan, Kementerian Sosial akan meluncurkan tim reaksi cepat untuk memetakan jumlah penyandang disabilitas mental dan gangguan psikotik di Indonesia. Tugas mereka adalah memetakan penyandang disabilitas mental dan gangguan psikotik untuk menentukan kebutuhan suplai obat.

    “Agar kebutuhan obat terpenuhi dan mereka dapat menjalani pengobatan hingga sembuh.” Bantuan pengawasan, kata Khofifah, akan digalakkan dari kader-kader puskesmas. “Saya berharap tidak ada lagi penyandang disabilitas mental yang dipasung,” katanya.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.