Musim Angin Barat, Pasokan Ikan Nelayan Seret  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kapal nelayan bersandar menunggu malam tiba untuk melaut di Kampung Nelayan Cilincing, Kalibaru, Jakarta Utara, 5 Agustus 2014. Mayoritas pencari ikan tersebut tergolong nelayan kecil dengan kapasitas kapal di bawah 30 gross ton (GT) yang akan dibatasi Solar Bersubsidi oleh pemerintah. TEMPO/Dasril Roszandi

    Kapal nelayan bersandar menunggu malam tiba untuk melaut di Kampung Nelayan Cilincing, Kalibaru, Jakarta Utara, 5 Agustus 2014. Mayoritas pencari ikan tersebut tergolong nelayan kecil dengan kapasitas kapal di bawah 30 gross ton (GT) yang akan dibatasi Solar Bersubsidi oleh pemerintah. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Indramayu - Pasokan ikan ke tempat pelelangan ikan (TPI) mengalami kekosongan selama musim angin barat. Sebab, nelayan enggan melaut. "Sudah seminggu ini tidak ada lagi pasokan ikan ke TPI ini," kata Ketua KUD Misaya Mina Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Mansyur, Senin, 28 Desember 2015.

    Musim baratan ini identik dengan embusan angin kencang dan gelombang tinggi yang dapat membuat kapal terbalik. Ini membuat keselamatan nelayan terancam. Karenanya, tidak mengherankan selama musim baratan para nelayan cenderung enggan melaut sehingga pasokan ikan terganggu.

    Menurut Mansyur, produksi ikan di TPI ini bisa bisa mencapai nilai sekitar Rp 200 juta/hari dalam kondisi normal. Namun sejak musim baratan, nelayan pun enggan melaut sehingga tidak ada lagi pasokan ikan dalam sepekan ini di TPI.

    Mansyur menjelaskan, ada sekitar 3.000 nelayan dengan beragam jenis alat tangkap/jaring di daerah ini. Namun semua kapal yang mereka gunakan bobotnya di bawah 30 gross ton. "Kapal berukuran kurang dari 30 gross ton sangat terpengaruh dengan musim baratan," kata Mansyur.

    Kondisi yang sama pun terjadi di Desa Karangreja, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon. ''Normalnya, pasokan ikan ke TPI Karangreja bisa puluhan ton per hari, tapi sekarang menurun,'' ujar Ketua Koperasi TPI Karangreja Cirebon Utara, Naji Tahir.

    Ukuran kapal nelayan,  yang rata-rata hanya 10 gross ton, membuat mereka enggan melaut karena takut kapalnya terbalik dan hancur.

    Seperti diketahui, cuaca ekstrem dan gelombang tinggi melanda perairan Laut Jawa hingga Kepulauan Natuna. Syahbandar Indramayu pun melarang kapal-kapal berlayar di perairan tersebut.

    Larangan itu seperti yang tertuang dalam Surat Edaran bernomor UM.003/14/UP.UPP-Im/2015 tertanggal 17 Desember 2015. Tidak hanya untuk kapal nelayan, larangan itu juga berlaku untuk kapal-kapal tanker besar, tongkang, tugboat, kapal roro, dan kapal penumpang berkecepatan tinggi.
     
    Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, cuaca ekstrem dan gelombang tinggi sedang melanda perairan Laut Jawa sampai Natuna. Ketinggian gelombang berkisar 1,25-4 meter. Bahkan di sejumlah titik bisa mencapai 6 meter.



    IVANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.