Kaleidoskop 2015: Tragedi Angeline, Bocah Korban Kekejaman  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Angeline. (Ilustrasi: Indra Fauzi)

    Angeline. (Ilustrasi: Indra Fauzi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Pagi itu warga Jalan Sedap Malam, Denpasar Raya, Bali, dibikin kaget. Setelah dinyatakan hilang dari rumahnya pada 16 Mei 2015, Angeline Megawe ditemukan menjadi mayat di pekarangan rumah Margriet Christina Megawe, ibu angkatnya, Rabu, 10 Juni 2015.

    Jasad bocah malang berusia 8 tahun itu terkubur dalam liang sedalam 60 sentimeter. Ia meringkuk dengan pakaian lengkap dan tangan seperti memeluk boneka. Hasil uji forensik menunjukkan banyak luka bekas siksaan di tubuh murid kelas dua sekolah dasar ini.

    Dalam kasus yang menyita perhatian masyarakat seantero Tanah Air itu, semula polisi hanya menetapkan Agus Tae Hamda May, bekas pembantu Margriet, sebagai tersangka. Belakangan, penyidik menetapkan pula Margriet, sang ibu angkat, sebagai tersangka.

    Sidang perdana kasus Angeline digelar sejak 22 Oktober 2015 di Pengadilan Negeri Denpasar dan masih terus bergulir hingga 23 Desember 2015. Dalam proses persidangan terungkap sejumlah fakta, termasuk adanya dugaan skenario menghilangkan jejak kematian Angeline.

    Salah satu upaya penghilangan jejak itu adalah iming-iming Rp 40 juta kepada Rosidi, ayah kandung Angeline, agar mengaku sebagai penculik anaknya sendiri. "Tuduhan mengarah ke saya, mereka tak memaksa, ada uang muka Rp 2 juta, tapi saya enggak lihat uangnya," kata Rosidi dalam kesaksiannya.

    Fakta lain muncul dari kesaksian saksi ahli kimia forensik dan biologi Kepolisian Daerah Bali, Ngurah Wijaya Putra. Ia mengakui jika hasil penelitian laboratorium forensik yang menyimpulkan tidak ditemukan darah Angeline dari beberapa titik di rumah Margriet adalah salah.

    Hotma Sitompoel, pengacara Margriet, mengatakan semua kesaksian hanya menyudutkan kliennya. "Hampir semua saksi diatur polisi," kata Hotma. Namun, Hotman Paris Hutapea, pengacara Agus Tae, meminta Hotma berhenti membela kliennya. "Sudahlah, hentikan pembelaan itu. Kliennya nanti yang hancur sendiri."

    TIM TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.