Senin, 22 Oktober 2018

Begini Perayaan Natal dan Maulid Nabi di Kawasan Tengger  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mualaf Tengger merayakan Maulid Nabi Mhammad di Masjid Al Hidayah, Dusun Bakalan, Desa Argosari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Rabu malam, 23 Desember 2015. TEMPO/David Priyasidharta

    Mualaf Tengger merayakan Maulid Nabi Mhammad di Masjid Al Hidayah, Dusun Bakalan, Desa Argosari, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Rabu malam, 23 Desember 2015. TEMPO/David Priyasidharta

    TEMPO.CO, Lumajang - Peringatan Hari Raya Natal dan Maulid Nabi Muhammad di Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, berlangsung damai di tengah mayoritas warga di desa yang beragama Hindu. Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lumajang, Atok Hasan Sanusi, mengatakan toleransi antar umat beragama di Desa Ranupani yang masuk kawasan Tengger ini ini sangat baik.  

    "Di daerah ini mayoritas warganya beragama Hindu," kata Atok, Jumat, 25 Desember 2015.. Kendati demikian ada tiga rumah ibadah yang jaraknya saling berdekatan yakni pura, masjid, dan gereja. Dalam setiap ritual keagamaan masing-masing dalam rangka hari besar keagamaan masing-masing, selalu berlangsung rukun dan damai. "Masing-masing pemeluknya saling menjaga rasa toleransi beragama," kata Atok. 

    Saat berlangsung peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Hari Raya Natal yang waktunya hampir bersamaan, umat Kristen maupun Islam saling menciptakan suasana yang membuat jalannya ritual peribadatan masing-masing khusyuk dan khidmat. "Kerukunan umat beragama di Desa Ranupani ini sangat terjaga," kata Atok.

    Salah satu contoh bagaimana kerukunan umat beragama di Desa Ranupani ini adalah terpilihnya kepala desa yang beragama Kristen pada periode lalu. Dibandingkan warga yang beragama Hindu dan Islam, pemeluk Kristen di Desa Ranupani ini yang lebih sedikit alias minoritas. "Namun mayoritas warga malah memilih pemimpin yang bukan dari golongan agamanya," kata dia.

    Kerukunan antar umat beragama yang sangat terjaga ini tidak lepas dari kedewasaan warga setempat terhadap kebebasan dalam memeluk agama. "MUI yang bekerja sama dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) juga senantiasa bahu-membahu dalam menguatkan silaturahmi dan toleransi antar umat beragama," kata Atok. Pembinaan juga rutin dilaksanakan dalam membina kerukunan umat beragama di Desa Ranupani. 

    Desa Ranupani ini merupakan akses yang lazim dilalui para wisatawan ketika hendak mendaki Gunung Semeru. Saban hari, lebih dari seratus orang wisatawan melakukan pendakian ke Gunung Semeru. Ramainya wisatawan yang mendaki ke Semeru ini membuat roda perekonomian di desa Ranupani ini dinamis. Dari Lumajang, waktu tempuh menuju Ranupane ini sekitar dua jam dengan melewati hutan yang masuk kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS). 

    DAVID PRIYASIDHARTA


    Berebut Bagian Gunungan Maulid untuk Mendapat... oleh tempovideochannel


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hak Asasi Binatang Diperingati untuk Melindungi Hewan

    Hak Asasi Binatang, yang diperingati setiap 15 Oktober, diperingati demi melindungi hewan yang sering dieksploitasi secara berlebihan, bahkan disiksa.