Tradisi Maulid Nabi, Warga Madiun Rebutan Uang Koin  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratusan warga Dusun Sukorejo, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur berebut uang koin yang disebar oleh keluarga sesepuh desa setempat, 24 Desember 2015. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Ratusan warga Dusun Sukorejo, Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur berebut uang koin yang disebar oleh keluarga sesepuh desa setempat, 24 Desember 2015. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Madiun – Warga Desa Kedondong, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur mempunyai cara tersendiri dalam memperingati hari lahir atau maulid Nabi Muhammad S.A.W. Mereka berebut uang koin yang disebar keluarga almarhum Darmo Atmojo, sesepuh desa setempat, Kamis, 24 Desember 2015 atau 12 Rabiul Awal 1437 Hijriyah. 


    Sebar uang dengan jumlah sekitar Rp 10 juta berlangsung di halaman rumah almarhum Darmo Atmojo. Hal itu dilakukan setelah para tokoh agama dan tokoh masyarakat melantunkan Salawat Nabi dengan diiringi alat musik terbang besar dan kendang atau biasa disebut seni gembrungan. 


    ‘’Ada proses yang tidak boleh ditinggal yaitu rebutan jajanan pasar,’’ kata Sudarmoko, 55 tahun, tokoh masyarakat Desa Kedondong. 


    Menurut dia, serangkaian kegiatan dalam memperingati hari lahir Nabi Muhammad itu berlangsung secara turun-temurun sejak ratusan tahun silam. Tradisi tersebut memiliki makna saling berbagi atau sedekah bagi warga yang kurang mampu. 


    ‘’Kalau dulu yang memberikan sedekah hanya keluarga (Darmo Atmojo) tapi seiring waktu warga lain yang memiliki rezeki lebih ikut menyumbang,’’ ucap Sudarmoko. 


    Tradisi tersebut senantiasa dijalankan warga Desa Kedondong setiap tahun. Mereka beranggapan, apabila salah satu rangkaian peringatan Maulid Nabi itu tidak dipenuhi maka bisa berdampak pada kehidupan warga. Pada 2003, Sudarmoko, menjelaskan mayoritas warga desa setempat mengalami sakit perut. Tanaman padi di lahan persawahan warga juga diserang hama yang diyakini karena rebutan jajanan pasar ditiadakan saat peringatan Maulid Nabi. 


    Sementara itu, tradisi tersebut senantiasa menjadi daya tarik warga. Ratusan warga baik anak-anak maupun orang dewasa saling berebut jajanan pasar yang dipajang di batang pohon yang telah dipotong. Mereka juga antusias berebut uang koin yang disebar oleh keluarga almarhum Darmo Atmojo dan beberapa tokoh agama. 


    ‘’Setiap tahun saya selalu ikut rebutan bersama warga yang lain. Saya merasa senang meski harus dorong-dorongan,’’ ucap Winarsih, 55 tahun, salah seorang warga. 

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.