Jakarta-Yogya 24 Jam, Perlu 6 Jam untuk Tempuh Jalan Tol Cipali

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kemacetan panjang di Jalur Selatan Pulau Jawa di Banyumas, Jawa Tengah. Liburan Maulid Nabi dan Natal membuat banyak wisatawan berbondong-bondong ke Yogyakarta, (24/12/2015) (Dok. Sunan Hasan)

    Kemacetan panjang di Jalur Selatan Pulau Jawa di Banyumas, Jawa Tengah. Liburan Maulid Nabi dan Natal membuat banyak wisatawan berbondong-bondong ke Yogyakarta, (24/12/2015) (Dok. Sunan Hasan)

    TEMPO.CO, Banyumas - Liburan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Natal tahun ini kembali diwarnai kemacetan di sepanjang tempat-tempat wisata dan jalur mudik, seperti ke Yogyakarta. Kemacetan itu terjadi sejak di jalan tol dalam kota Jakarta, jalan tol Cikampek, bahkan sampai ke Jalur Selatan Pulau Jawa menuju Yogyakarta.

    Sunan, 43 tahun, pengusaha bisnis ayam geprek Jekardah di Yogyakarta, adalah salah satu korban macet. Dari Jakarta dia bersama teman-temannya berangkat ke Yogyakarta pada Rabu, 23 Desember 2015, pukul 18.30. Namun hingga Kamis siang, pukul 12.00, dia baru sampai Sumpiuh, Banyumas. "Ini berarti Jakarta-Yogyakarta bisa 24 jam," katanya. Dia harus menempuh jalan tol Cikampek selama empat jam, kemudian menempuh jalan tol Cipali enam jam, dan beberapa kemacetan lain di luar jalan tol.

    Hal serupa dialami Aryanto. Karyawan swasta asal Depok ini harus menempuh sekitar 18 jam perjalanan dari Depok menuju Kulonprogo. Dia ingin merayakan Natal bersama keluarganya di kota itu.

    Petaka yang sama dialami Hidayat. Dari Bogor, dia berniat pulang kampung ke Kuningan. Berangkat pukul 11.00 dan sudah empat jam berlalu, dia baru sampai jalan tol Cikunir.

    Kemacetan memang terjadi di sepanjang jalur mudik. Antrean arus kendaraan yang datang dari arah Jakarta menuju arah Cirebon, dengan menggunakan ruas jalan tol Cikopo-Palimanan (Cipali), sepanjang Kamis pagi, 24 Desember 2015, menumpuk di pintu gerbang utama tol Cikopo, Purwakarta.

    "Antriannya sempat hingga lima kilometer," kata perwira Unit Patroli Jalan Raya Tol Cipali, Inspektur Dua Heri, kepada Tempo, Kamis pagi ini. Antrean panjang di gerbang tol Cikopo sudah terjadi sejak Rabu malam, 23 Desember 2015.

    Menurut Heri, PT Lintas Marga Sedaya selaku pengelola jalan tol Cipali sudah membuka sebelas gardu pembayaran dan penukaran tiket buat menampung seluruh kendaraan yang akan menuju ke arah Cirebon. "Tapi, kami sedang mengusulkan agar gardunya ditambah lagi," Heri menjelaskan.

    Ia memprediksikan antrean kendaraan yang mayoritas kendaraan pribadi tersebut, akan mudik Natal dan berwisata, baik yang ke arah Cirebon, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, juga yang akan keluar pintu gerbang tol Cilameri, Subang, menuju lokasi wisata Ciater, dan Lembang, Bandung.

    Baca juga: Libur Maulid dan Natal, Jalur Puncak Macet Parah

    "Kalau saya mau mudik ke Solo, mau Natalan di kampung halaman," kata Supriyatno, ketika ditemui di lokasi menuju gerbang tol Cikopo. Ia mengaku antre sejauh lima kilometer untuk sampai di gardu pembayaran dan pengambilan tiket jalan tol Cikopo. "Lumayan, kaki pegal-pegal."

    Lain lagi dengan Winda. Warga Depok tersebut akan menuju lokasi wisata Ciater buat mengisi masa libur panjang akhir tahun tersebut. "Kami terjebak macet sejak masuk tol Jakarta-Cikampek lalu nyambung menuju pintu gerbang tol Cipali di Cikopo. Kami berangkat rombongan selepas salat subuh, sekarang masih terjebak di Cikopo. Capek banget," ujarnya sambil menggelng-gelengkan kepala.

    Berdasarkan pemantauan Tempo.co, arus kendaraan yang datang dari arah Jakarta menuju gerbang tol Cipali, harus rela mulai antre di Kilometer 72, sekeluar dari jalur tol Jakarta-Cikopo. Dari lokasi itu, putaran roda kendaraan langsung merayap dan terendah hingga di gerbang tol Cipali di kilometer 77.

    Adapun situasi di ruas jalur Cipali selepas gerbang tol Cikopo menuju arah Cirebon, arus kendaraan ramai lancar dengan kecepatan rata-rata 40-60 kilometer per jam.

    BS | NANANG SUTISNA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    UMP 2020 Naik 8,51 Persen, Upah Minimum DKI Jakarta Tertinggi

    Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan kenaikan UMP 2020 sebesar 8,51 persen. Provinsi DKI Jakarta memiliki upah minimum provinsi tertinggi.