Rizal Ramli Pilih Bicara Hari Ibu Ketimbang Pelindo II  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli dalam Rapat Kerja Pansus Pelindo II di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 29 Oktober 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli hanya diam dan terus berjalan. Dia mengacuhkan pertanyaan wartawan yang mencegatnya di Jakarta Convention Center siang ini, Selasa, 22 Desember 2015. Rizal enggan berkomentar saat ditanya soal kasus yang menimpa Direktur Utama PT Pelabuhan Indonesia II Richard Joost Lino.
     
    Rizal berjalan semakin cepat menuju mobilnya. Namun langkahnya mendadak berhenti ketika wartawan meminta dia bercerita tentang ibu, dalam rangka memperingati Hari Ibu Nasional yang dirayakan hari ini. Sikap Rizal langsung berubah. Ia tampak antusias. "Kalau ini penting," katanya membuka percakapan. "Saya sudah lima tahun yatim piatu. Tapi saya ingat ibu saya."

    Ibunda Rizal Ramli adalah seorang guru. Ia lantas memuji ibunya yang senang mengendarai sepeda. Padahal, kata dia, pada zaman itu, tak banyak perempuan bersepeda. "Dia naik sepeda, aktif berolahraga," tuturnya.

    Tak hanya itu, sang ibu juga mengajarkan Rizal membaca, sehingga dia jadi sangat menggemari kegiatan tersebut. "Dia mengajarkan saya membaca. Jadi dari umur 3 tahun saya sudah baca. Ternyata itu warisan paling penting dari ibu saya karena saya doyan banget membaca. Semua dibaca," ujar Rizal.

    Dia mengaku bisa sampai di titik sekarang karena banyak sekali membaca. "Berdialog dengan tokoh-tokoh penting," ucapnya. Menurut Rizal, membaca karya pemikir besar sama saja berdialog dengan mereka.

    Rizal tak lupa berterima kasih pada Hari Ibu. "Saya berterima kasih kepada almarhum ibu saya, dan semua ibu-ibu Indonesia. Karena kehidupan, kan, sulit. Tapi seorang ibu yang baik berkorban untuk anaknya. Melakukan apa pun buat putra-putrinya. Dan kita wajib berterima kasih."

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.