Ben Anderson Bicara Saminisme, Orde Baru, dan Saya San Burma  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell saat memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell saat memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Jakarta - Benedict Richard O'Gorman Anderson atau Ben Anderson telah bersahabat lama dengan Amrih Widodo, dosen antropologi budaya di Australian National University. Mereka bertemu untuk terakhir kali ketika sama-sama berada di Manila pada Januari 2014. Ketika itu, Amrih melakukan wawancara untuk film dokumenter yang sedang ia bikin mengenai gerakan Saminisme di Jawa.

    Menurut Amrih, Saminisme di Jawa mempunyai kemiripan dengan gerakan Andres Bonaficio di Filipina dan Saya San di Burma. Mereka menjadi perhatian para peneliti dan ahli yang mengamati gerakan nasionalisme di Asia Tenggara.

    Sebab, karakter, tujuan, ideologi, dan modus operandi mereka berbeda dengan gerakan nasionalisme modern. “Topik Saminisme ini dulu di Cornell selalu dipakai dalam seminar mengenai Indonesia yang diajarkan oleh Pak Ben,” kata Amrih kepada Tempo, Jumat, 18 Desember 2015.

    Dalam wawancara itu, kata Amrih, dibicarakan juga gerakan anarkisme di Asia Tenggara, mengapa gerakan semacam Saminisme ini bisa bertemu dan bekerja sama dengan gerakan petani? Bagaimana pula gerakan petani bisa tetap hidup menghadapi rezim seperti Orde Baru dan lainnya?

    Amrih juga punya kenangan lain. Suatu kali, Amrih dan anak-istrinya pergi ke Bangkok dan membuat janji bertemu Ben Anderson. Ternyata, janjian yang pertama tidak terjadi karena Ben sakit encok.

    Ceritanya, Ben harus membantu temannya, seorang petani, menaikkan hasil panen ke mobil pikap. Karung hasil panen itu ternyata terlalu berat dan menyebabkan punggungnya terkilir. “Dalam bayangan saya, Pak Ben masih menjalankan perannya sebagai kader buruh tani dengan bekerja angkut barang,” ujar Amrih.

    Amrih bertemu pertama kali dengan Ben pada tahun 1981 dalam suatu pesta yang diadakan John Wolff, dosen di Cornell University. John mempekerjakan Amrih sebagai guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di Cornell University sejak musim gugur 1981. Di kampus ini juga Amrih meraih gelar master.

    Ben Anderson, profesor dari Universitas Cornell, Amerika Serikat, yang ikut mewarnai pemikiran dunia tentang Indonesia, wafat di Batu, Jawa Timur, Minggu dinihari, 13 Desember 2015. Ben dikenal karena kritik-kritiknya terhadap Orde Baru. Ia pernah dilarang masuk ke Indonesia oleh Soeharto dan baru datang lagi ke sini setelah rezim Soeharto jatuh.

    Seputar Ben Anderson dan pentingnya bagi Indonesia diulas dalam majalah Tempo terbaru yang terbit Senin, 21 Desember 2015.

    SUNUDYANTORO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.