Bonbin Surabaya Klarifikasi Kabar Orang Utan Dihamili Petugas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pengunjung menontong tingkah anak orang utan di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, Rabu (30/5). TEMPO/Fully Syafi

    Sejumlah pengunjung menontong tingkah anak orang utan di Kebun Binatang Surabaya, Jawa Timur, Rabu (30/5). TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.COSurabaya - Pengelola Kebun Binatang Surabaya (KBS) mengeluarkan klarifikasi resmi terkait dengan kabar miring yang menyebutkan satu koleksi orang utan hamil atas tindakan tak patut keeper atau perawatnya. Berita tudingan itu telah membuat geger banyak kalangan, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

    “Bu Menhut sampai telepon saya karena beliau concern juga, ‘ada apa ini’. Ya, saya terangkan itu tidak benar,” kata pejabat sementara Direktur Utama KBS Aschta Boestani Tajudin ketika menunjukkan kondisi kandang dan koleksi orang utan kepada wartawan, Minggu, 20 Desember 2015.

    Aschta mengaku kesulitan melacak penyebar berita palsu tersebut lantaran bersumber dari situs online luar negeri. Menurut dia, tak menutup kemungkinan pelakunya adalah orang Indonesia sendiri yang berniat buruk. “Enggak menutup kemungkinan itu orang Indonesia yang beli domain Malaysia dan melakukan seperti itu,” ujarnya. 

    Perempuan yang sebelumnya aktif di The Borneo Orang Utan Survival Foundation itu memilih melakukan klarifikasi dan hak jawab dibandingkan menyelidiki si pembuat situs tersebut. Dia menyebutkan, pertama, nama-nama karyawan dan direktur yang dikutip dalam berita itu tak pernah ada dalam database-nya. 

    “Akhiroel Yahya dan Abdul Hakim itu tidak ada dalam posisi apa pun di data HRD kami sampai saat ini,” tuturnya.

    Selain itu, KBS tak punya koleksi orang utan bernama Marylin seperti yang dituduhkan. Kebun binatang tertua di Indonesia itu memiliki koleksi delapan ekor orang utan, yang terdiri atas tiga ekor orang utan jantan bernama Acong, Sinyo, dan Rizki, serta lima ekor orang utan betina bernama Ninuk, Tini, Alifah, Damai, dan Dora.

    Adapun foto yang dimuat dalam pemberitaan palsu tersebut adalah Dora. Koleksi yang satu ini, kata Aschta, memang pernah di-suspect oleh ahli SEAZA bunting pada 2013. "Tapi, setelah diambil darah, hasilnya negatif. Dia memang mengalami obesitas,” ucap Aschta.

    Lagi pula, dia menjelaskan, meski manusia memiliki kemiripan genetik sekitar 84 persen, interspecies breeding 90 persen tidak akan terjadi. Sebab, secara fisiologi dan metabolisme, manusia dan orang utan berbeda. "Bahkan, kalau kita mau kawinkan orang utan dengan simpanse dan gorila saja tidak bisa,” dia menegaskan.

    Pihak KBS meminta agar tak ada lagi media di Indonesia yang gegabah melansir berita tanpa klarifikasi atau sengaja memuat berita bombastis semata. “Kalau setelah kami lakukan hak jawab tapi tidak digubris, kami mungkin akan adukan ke Dewan Pers.”

    Sebelumnya, seorang keeper (perawat) yang tak diketahui namanya diberitakan menghamili orang utan. Hal ini diketahui dari rekaman CCTV di sejumlah titik. Worldnewsdailyreport.com mengutip kesaksian karyawan bernama Akhiroel Yahya. Informasi itu lalu dikutip media lokal di Surabaya.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.