Besok Abu Benedict Anderson Dilarung di Laut Jawa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Adik pertama almarhum Benedict Richard O'Gorman Anderson, Perry Anderso (76) saat mengikuti upacara prosesi tutup peti di Yayasan Rumah duka Adi Jasa, Surabaya, Jawa Timur, 18 Desember 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Adik pertama almarhum Benedict Richard O'Gorman Anderson, Perry Anderso (76) saat mengikuti upacara prosesi tutup peti di Yayasan Rumah duka Adi Jasa, Surabaya, Jawa Timur, 18 Desember 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Surabaya - Jenazah ahli Indonesia, Benedict Richard O’Gorman Anderson, dikremasi hari ini di Krematorium Eka Praya Kembang Kuning, Surabaya. Sejumlah kerabat dan kolega dekat mengiringi kepergiannya dari Rumah Duka Adi Jasa jalan Demak.

    Tampak kedua adiknya, Perry dan Melanie Anderson, serta keempat anak angkatnya; Benny Herawand, Wahyu Yudistira, Firmansyah Irfan, dan Ganang Indradjit Pamungkas. Begitu pula sejumlah aktivis maupun wartawan senior yang dekat dengannya, seperti Goenawan Mohammad, Hendi Prayogo, Samas H. Widjaja, dan Arief W. Djati.

    Upacara pelepasan dan rangkaian doa secara Katolik dimulai pukul 09.30 WIB. Jenazah lalu diantar rombongan ke krematorium Eka Praya, Kembang Kuning, sekitar pukul 10.00 WIB. Sekitar pukul 11.00, untaian doa kembali dipanjatkan dalam upacara menjelang kremasi.

    Sesuai wasiat, abu pria yang meninggal pada usia 79 tahun itu akan ditaburkan di laut sekitar Pulau Jawa. Semua abunya langsung dilarung di Laut Jawa sekitar Pelabuhan Tanjung Perak menggunakan kapal pukul 07.00.

    “Rombongan keluarga dan kerabat berangkat dari PT Pelindo Marine Service,” ujar kolega dekat Ben selama di Surabaya, Khanis Suvianita kepada Tempo, Sabtu, 19 Desember 2015.

    Dalam wasiat tertulis, Ben Anderson meminta agar ia dikremasi dan abunya ditabur di Indonesia. “Di dalam surat wasiat yang ditulis kuasa hukumnya, Ben menyebutkan ‘Javanese Ocean’,” kata anak angkat pertama Ben, Benny Herawand.

    Sedangkan anak angkat keempat Ben Anderson, Ganang Indradjit, penulis buku Imagined Communities, tak menyebutkan secara detail titik lokasinya. Yang terpenting adalah di laut sekitar Jawa. Tak lupa, ia minta didoakan dalam versi agama para koleganya, yakni Islam, Budha, dan Katolik. “Om Ben pengen didoakan oleh banyak agama, karena beliau orangnya pluralis,” kata Ganang.

    Sehari sebelumnya, upacara pelepasan dan tutup peti dimulai pukul 17.00. Untaian doa pertama yang dipanjatkan ialah tahlilan berdasarkan agama Islam perwakilan dari Gusdurian. Dilanjutkan pembacaan Paritta yang dipimpin oleh Bhikkhu Tejjapunno dari Sangha Teravada Indonesia. Sekitar pukul 19.00, doa arwah dan tutup peti dipanjatkan oleh Romo Kurdo Irianto dari Gereja Katolik.

    Indonesianis Ben Anderson meninggal pada usia 79 tahun pada Sabtu, 12 Desember 2015 malam. Ia meninggal dalam tidurnya usai melawat di dua tempat favoritnya, Petirtaan Jolotundo, Mojokerto dan Candi Belahan di Kecamatan Gempol, Pasuruan.

    Ben Anderson memiliki riwayat penyakit jantung, meski ia selalu tampak segar bugar.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.