Budi Waseso: Napi Narkoba Freddy Budiman Masuk Penjara Buaya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso menempelkan stiker anti penggunaan narkoba di  salah satu mini market dijalan Gubernur Suryo,  Surabaya, Jawa Timur, 26 November 2015. FULLY SYAFI

    Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Budi Waseso menempelkan stiker anti penggunaan narkoba di salah satu mini market dijalan Gubernur Suryo, Surabaya, Jawa Timur, 26 November 2015. FULLY SYAFI

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Nasional Narkotika Komisaris Jenderal Budi Waseso mengatakan terpidana mati kasus narkoba Freddy Budiman seharusnya ditempatkan di sebuah ruang isolasi di sebuah pulau terluar yang dijaga oleh buaya. Menurut dia, Freddy tidak pernah merasa jera karena hingga saat ini masih mengedarkan narkoba di dalam Nusakambangan.

    “Bayangkan, Freddy Budiman sampai hari ini masih bisa bergerak, mengedarkan, bahkan berhubungan. Itu hasil pantauan kami,” kata Budi saat ditemui Tempo di kantornya, Kamis, 10 Desember 2015.

    Budi mengaku tidak bisa berbuat banyak. Sebab, BNN terbentur dengan aturan jika akan melakukan penyergapan ke dalam Nusakambangan. “Kalau kami mau masuk, pasti ada prosedur segala macam. Akhirnya, sudah hilang barang bukti dan lainnya,” katanya.

    Saat ini, kata Budi, BNN tengah melakukan kerja sama dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk bisa melakukan penindakan di dalam penjara. Selain itu, kerja sama juga menyangkut gagasan penjara buaya. Rencananya, penjara ini akan dibuat di sebuah pulau terluar.

    Menurut Budi, ide penjara buaya tercetus saat dia diprotes Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly karena penuhnya lembaga pemasyarakatan oleh para terpidana narkoba. “Tiga minggu saya menjabat Kepala BNN, saya menyumbang 1.523 tersangka seluruh Indonesia. Saya diprotes Menkumham yang lapor ke Presiden bahwa kalau Kepala BNN aktif begini, akan ada masalah baru,” katanya.

    Dalam rapat itu, Budi menyampaikan ide untuk menempatkan bandar narkoba kelas kakap di suatu tempat yang tidak dijaga manusia. Dia mencontohkan suatu pulau bisa dibuat sungai yang diisi ratusan buaya ganas. “Pak Presiden dan Menteri Yasonna bilang ada-ada saja. Saya pun jelaskan konsepnya,” katanya.

    Tak hanya buaya, Budi juga mengusulkan dibuat lagi sungai buatan yang diisi ikan piranha. Menurut Budi, mendengar usul itu,Presiden Jokowi sempat heran. Menurut dia, ikan piranha sangat cocok karena sangat agresif. “Masuk tangan sedikit sudah dihajar sama mereka. Ring berikutnya bisa dikasih harimau,” ujarnya.

    Budi mengaku Presiden Jokowi cukup antusias dengan ide tersebut. Hingga saat ini, dia diminta Jokowi merealisasikan ide penjara buaya. Tim BNN pun bekerja sama dengan Kemenkumham mencari pulau-pulau kecil yang pas untuk dijadikan tempat penjara buaya. “Kalau ketemu, dipotret lalu kami bahas bersama,” katanya.

    ANGGA SUKMAWIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.