Banjir di Bandung, Warga Siap Digusur Pemerintah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Guru membagikan raport siswa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di sebuah RM Padang di kawasan Andir, Kabupaten Bandung, 17 Desember 2015. Banjir ini diakibatkan Sungai Citarum dan Cisangkuy yang meluap. TEMPO/Prima Mulia

    Guru membagikan raport siswa PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di sebuah RM Padang di kawasan Andir, Kabupaten Bandung, 17 Desember 2015. Banjir ini diakibatkan Sungai Citarum dan Cisangkuy yang meluap. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.COBandung - Banjir kembali melanda Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, sejak tadi malam, Rabu, 16 Desember 2015. Hujan deras yang mengguyur Bandung Raya kemarin membuat aliran Sungai Cisangkuy meluap dan masuk ke permukiman warga. Puluhan warga dari satu kelurahan yang terkena dampak banjir mulai diungsikan.

    Kepala Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bandung Tata Irawan mengatakan banjir melanda sejumlah wilayah rukun warga di Desa Cigosol, Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah. Selain itu, banjir menggenangi Kampung Cieunteung, Kecamatan Baleendah. "Ketinggiannya 10-40 sentimeter," ucap Tata kepada Tempo, Kamis, 17 Desember 2015.

    Ia mengatakan saat ini pihaknya sudah menyiapkan sejumlah tempat pengungsian di Kecamatan Baleendah. Namun, hingga sore hari, baru satu tempat pengungsian yang dihuni warga terdampak banjir, yakni gedung Institut Karate-Do Nasional, Kabupaten Bandung. Pantauan Tempo, di tempat pengungsian tersebut terdapat 53 warga. "Tempat pengungsian sudah siap tapi masih kosong," ujarnya.

    Kemarin di Kampung Cigosol, air bah memasuki rumah warga. Terlihat sejumlah anak kecil bermain air. Perahu kayu milik BPBD dan kepolisian tampak terparkir di sejumlah titik. Bahkan banjir hampir meluap ke jalan raya Dayeuhkolot-Banjaran. Air setinggi betis orang dewasa tersebut membuat arus lalu lintas terganggu.

    Salah satu warga Kampung Cigosol, Sholihah, 53 tahun, mengaku bosan dengan bencana banjir yang dialami hampir setiap tahun. Ia menuturkan dampak banjir semakin besar.

    "Saya sudah tinggal di sana sejak 1974. Banjir tiap tahun semakin besar. Tahun kemarin yang paling besar. Bosen tiap tahun harus ngungsi," tuturnya. "Bulan ini saja sudah empat kali."

    Sholihah mengatakan, setiap musim hujan, ia beserta warga lain selalu khawatir. Menurut dia, setiap malam apabila turun hujan, ia tak bisa tidur. "Kalau malam, saya sampai enggak bisa tidur, takut air. Kalau kemarau, bisa tidur nyenyak," ujarnya.
     
    Sholihah menuntut pemerintah segera mencari solusi dari permasalahan tahunan ini. Ia bahkan menawarkan rumah dan tanahnya dibebaskan pemerintah. "Ya, kami minta banjir enggak ada. Kalau bisa, beli rumah saya," tuturnya.

    IQBAL T. LAZUARDI S.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jejak Ahok, dari DPRD Belitung hingga Gubernur DKI Jakarta

    Karier Ahok bersinar lagi. Meski tidak menduduki jabatan eksekutif, ia akan menempati posisi strategis: komisaris utama Pertamina.