Setya Novanto Diputus Bersalah, Fadli Zon Malah ke Kuwait  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR RI Setya Novanto (kanan) bersama Wakil Ketua DPR Fadli Zon usai menggelar jumpa pers mengenai pertemuan dengan Donald Trump di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 14 September 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua DPR RI Setya Novanto (kanan) bersama Wakil Ketua DPR Fadli Zon usai menggelar jumpa pers mengenai pertemuan dengan Donald Trump di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, 14 September 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Saat Mahkamah Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat sedang mempertimbangkan sanksi bagi Ketua DPR Setya Novanto, salah satu wakilnya, yakni Fadli Zon, pergi ke Kuwait untuk menemui Emir Kuwait, Sheikh Sabah Al Ahmad Al Jaber Al Sabah

    Kedatangan politikus Gerindra itu berkaitan dengan kedudukannya sebagai Presiden GOPAC (Global Organization of Parliamentarians Against Corruption). Dalam pertemuan itu, Fadli Zon mengapresiasi Kuwait atas dukungan yang telah diberikan negara itu bagi GOPAC.

    "Kontribusi Kuwait sangat signifikan bagi GOPAC. Kuwait telah mendonorkan US$ 6 juta bagi keberlangsungan organisasi GOPAC dalam tiga tahun terakhir," kata Fadli Zon seperti dikutip dalam siaran tertulisnya pada Rabu, 16 Desember 2015.

    Setelah bertemu Emir Kuwait di Istana Al Bayan, Fadli Zon juga menemui ketua parlemen Marzouq Al Ghanim di gedung parlemen. Fadli Zon disambut secara formal dalam rapat paripurna yang juga dihadiri 15 menteri di negara itu.

    Bertolak belakang dengan Fadli Zon, Setya Novanto—yang selama ini ia bela—dinyatakan bersalah oleh mayoritas anggota MKD. Saat ini sudah sembilan anggota MKD yang menghendaki politikus Golkar itu dihukum sedang, sementara enam anggota MKD mempertimbangkan untuk dihukum berat.

    Putusan mengejutkan justru datang dari anggota MKD dari Fraksi Golkar, Ridwan Bae dan Adies Kadir. Mereka menyatakan ada indikasi pelanggaran berat. Padahal, dalam beberapa sidang MKD lalu, mereka terlihat menghambat jalannya persidangan. Misalnya, meminta bukti rekaman yang dilaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said harus divalidasi, meragukan ahli bahasa Yayah Bachria Mugnisjah, hingga mencecar Sudirman dan Maroef Sjamsoeddin dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan keduanya.

    Jika MKD memutuskan Setya bersalah dengan sanksi sedang, ia bakal dicopot dari kedudukannya sebagai Ketua DPR.

    DESTRIANITA K.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lolos ke Piala Eropa 2020, Ronaldo dan Kane Bikin Rekor

    Sejumlah 20 negara sudah memastikan diri mengikuti turnamen empat tahunan Piala Eropa 2020. Ada beberapa catatan menarik.