Minggu, 22 September 2019

ICW Luncurkan Frekuensi Perangkap Tikus Dua  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari kiri ke kanan, Personil Band Indie Art Wedding Cholil Mahmud, Personil Orkes Moral PSP Monos, Ade dan Omen, Produser Harlan Boer, dan Pegiat ICW Tama S Langkun menunjukkan album Frekuensi Perangkap Tikus 2 saat perilisannya di Gedung Film Umar Ismail, Jakarta. 15 Desember 2015. Album kompilasi yang merupakan kerjasama Indonesia Corruption Watch (ICW) dengan sejumlah musisi diantaranya SORE, Orkes Moral PSP, White Shoes And The Couples Company itu berisikan lagi-lagu dengan tema anti korupsi. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Dari kiri ke kanan, Personil Band Indie Art Wedding Cholil Mahmud, Personil Orkes Moral PSP Monos, Ade dan Omen, Produser Harlan Boer, dan Pegiat ICW Tama S Langkun menunjukkan album Frekuensi Perangkap Tikus 2 saat perilisannya di Gedung Film Umar Ismail, Jakarta. 15 Desember 2015. Album kompilasi yang merupakan kerjasama Indonesia Corruption Watch (ICW) dengan sejumlah musisi diantaranya SORE, Orkes Moral PSP, White Shoes And The Couples Company itu berisikan lagi-lagu dengan tema anti korupsi. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesian Corruption Watch (ICW) tanpa lelah melakukan kampanye antikorupsi dengan merilis album Frekuensi Perangkap Tikus volume kedua. Berbeda dengan volume pertama yang dirilis pada 2013, album volume kedua ini lebih mengedepankan propaganda perlawanan terhadap korupsi dengan cara yang lebih halus dan sederhana. Sembilan lagu yang dihimpun dalam album ini memuat materi yang lebih menyentuh kehidupan keseharian masyarakat dan lingkungan tempat mereka tinggal.

    "Pada album ini, kami mengusung gerakan pemberantasan korupsi lintas generasi dan berfokus pada kesadaran antikorupsi di level terdekat, misalnya lingkungan keluarga,” ujar koordinator Divisi Kampanye ICW, Tama S. Langkun, saat perilisan album tersebut di Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Selasa, 15 Desember 2015.

    “Jadi, untuk melawan korupsi, kita bisa memulai di lingkungan rumah sendiri. Jangan sampai keluarga, sahabat, atau tetangga kita sendiri melakukan korupsi,” ucapnya.

    Produser album ini, Harlan Broer, mengatakan cara ini sejalan dengan konsep pemilihan musikus yang berkontribusi dalam album ini. Delapan grup yang dipilih untuk album ini adalah grup yang punya hubungan kekerabatan. Misalnya, ada grup yang para personelnya adalah sahabat dekat sejak lama, seperti Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks, White Shoes & The Couples Company, dan Sore. Selain itu, ada grup yang personelnya punya ikatan suami-Istri, yaitu Indie Art Wedding dan Jirapah. Ada pula grup yang personelnya punya hubungan kakak dan adik, yaitu Anda dan Bonita serta The Experience Brother. Terakhir, ada grup yang punya hubungan ayah dan anak, yaitu Ebiet G. Ade berkolaborasi dengan L’Alphalpha.

    “Korupsi sudah menjadi hal yang dekat dengan kita. Jadi pemberantasannya harus dimulai dari yang dekat, yaitu lingkungan sekitar kita sendiri. Itu yang saya refleksikan di album ini,” tutur Harlan Broer.

    Album ini digarap untuk merayakan Hari Antikorupsi Internasional yang jatuh pada 9 Desember lalu. Dengan mencetak seribu keping di sesi penjualan pertama, Harlan berharap album ini dapat ikut berkontribusi dalam mengkampanyekan antikorupsi. “Semoga ini bisa menjadi referensi dan mengingatkan kita untuk tidak korupsi dimulai di lingkungan kita sendiri,” tuturnya.

    LUHUR TRI PAMBUDI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.