Ruhut: Disetir Hasto, PDIP Melempem di Sidang MKD

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Politikus PDIP, Hasto Kristiyanto, seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, 23 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    Politikus PDIP, Hasto Kristiyanto, seusai bertemu Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, 23 Oktober 2014. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, menuding Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Mahkamah Kehormatan Dewan mulai goyah sikapnya dalam sidang etik Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto. Dari tiga anggota PDIP di MKD, kata dia, hanya satu yang ngotot Novanto dijatuhi sanksi, yakni Junimart Girsang.

    Ruhut mengaku kaget saat PDIP kemarin mengganti Marsiaman Saragih dengan Risa Mariska. "Mariska baru. Saya dengar semua di bawah kendali Sekjen PDIP," kata Ruhut di gedung DPR, Selasa, 15 Desember 2015. Sekretaris Jenderal PDIP adalah Hasto Kristiyanto.

    Dia mengatakan sudah menyampaikan kepada Junimart agar mengajak Mariska bergabung dengan kubu yang ingin Novanto dihukum. "Ajaklah, ketuklah Junimart, kadernya Mariska itu. Enggak bisa dipengaruhi? Kata Junimart, enggak bisa, Bang. Di bawah kendali Hasto mereka itu. Tolong diuberlah Hasto itu," ujarnya.

    Dari hasil hitung-hitungan bersama Junimart, Ruhut mengatakan saat ini ada tujuh yang mendukung Novanto dihukum. "Kalau Mariska bisa kalian pencet, kita menjadi delapan. Pimpinan Partai Keadilan Sejahtera sama kita, jadi masih ada harapan. Kita katakan kepada mereka, ketuk hati mereka," tuturnya.

    Meski Demokrat partai penyeimbang, Ruhut meyakinkan dua kadernya di MKD tak akan bergeming. "Tidak usah khawatir, uang bukan segala-galanya. Kami dengar ada 2,5 juta dolar, 5 juta dolar," ucapnya.

    LINDA TRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.