Minus PKS, Puluhan Anggota DPR Desak Setya Novanto Mundur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto berjalan keluar ruangan seusai menjalani sidang etik Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 7 Desember 2015. Sidang yang berlangsung tertutup tersebut berlangsung selama kurang lebih lima jam. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto berjalan keluar ruangan seusai menjalani sidang etik Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 7 Desember 2015. Sidang yang berlangsung tertutup tersebut berlangsung selama kurang lebih lima jam. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.COJakarta - Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat mendesak Ketua DPR Setya Novanto untuk mundur. Desakan ini terkait dengan kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia yang masih hangat menjadi perbincangan publik. Pendapat publik terkait dengan kasus ini membuat DPR semakin terpuruk.

    BACA: Setya Laporkan Sudirman, Jaksa Agung, dan Metro TV ke Polisi

    "Semua fraksi hadir. Karena ini buru-buru, baru semalam. Yang tidak ada dari Partai Keadilan Sejahtera," kata salah satu anggota DPR dari Fraksi NasDem, Taufiqulhadi, di ruang KK 5 Kompleks Parlemen Senayan, Selasa, 15 Desember 2015. Dia mengklaim absennya PKS lantaran tak sempat menghubungi.

    BACA: Jawaban Metro TV atas Laporan Setya Novanto ke Polisi

    Hingga pukul 10.30, sudah 21 anggota DPR lintas fraksi yang berkumpul di ruangan. Mereka yang hadir di antaranya Nico Siahaan dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Tubagus Hasanuddin dari Fraksi PDIP, Wihadi dari Fraksi Hanura, Akbar Faisal dari NasDem, Komaruddin Watubun dari PDIP, dan Primus Yustisio dari Fraksi Partai Amanat Nasional. Menurut Taufiq, dari Fraksi Golkar nanti akan hadir Bambang Soesatyo.

    BACA: Jaksa Agung: Setya Inisiator, Riza Chalid Sewa Ritz-Carlton

    Menurut Komaruddin, pada tingkat internal, kasus ini membuat situasi lingkungan kerja di DPR semakin tidak kondusif karena terkait dengan kepemimpinan dewan. Pada saat yang sama, kata dia, fungsi Majelis Kehormatan Dewan jauh dari harapan publik. MKD menjadi forum perdebatan dan pembelaan belaka, dengan mengabaikan substansi persoalan. "Publik pun semakin ragu MKD bisa membuat keputusan dengan adil," ujar Komaruddin.

    BACA: Ditanya Soal 'Papa Minta Saham' Luhut: Yang Mulia Tanya Saja ke Riza Chalid

    Berikut ini tuntutan mereka. 
    1. Meminta kepada Sdr Setya Novanto untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua DPR dan anggota DPR untuk mengembalikan kepercayaan rakyat terhadap institusi DPR.

    2. Kami memberikan dukungan kepada anggota MKD yang masih memiliki komitmen untuk menyelamatkan DPR dengan menegakkan kode etik DPR RI. #SaveDPR

    LINDA TRIANITA

    BERITA MENARIK
    Bekas Pacar Nikita Mirzani: Orang Tahu Dia Jual Diri
    Nikita Mirzani Digerebek Polisi, Mantan Pacar: Syukurin!



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.