Rio Capella Akan Terima Vonisnya seperti Filsuf Socrates  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa kasus dugaan penerimaan gratifikasi Patrice Rio Capella usai menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 7 Desember 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Terdakwa kasus dugaan penerimaan gratifikasi Patrice Rio Capella usai menjalani sidang dengan agenda pembacaan tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 7 Desember 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Patrice Rio Capella, mantan Sekretaris Jenderal Partai Nasional Demokrat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat, membacakan pembelaannya dalam persidangan kasus suap yang menjeratnya. Dalam pleidoinya, Rio mengatakan akan menerima putusan sidang seperti yang dilakukan Socrates, filsuf Yunani.

    Rio mengatakan Socrates dihukum pengadilan Yunani dengan cara meminum racun. "Walau keputusan pengadilan tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan, tapi keputusan itu dibuat oleh sebuah lembaga yang suci dan diputuskan oleh orang yang suci," kata Rio mengucapkan pernyataan Socrates di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 14 Desember 2015.

    Dalam persidangan kali ini, Rio didampingi istrinya. Mengenakan baju batik biru, Rio membacakan pembelaannya yang dikaitkan dengan kisah Mahabarata. Ia mengibaratkan jaksa sebagai Widura, tokoh yang bijaksana dan dirinya sendiri sebagai Bima.

    Dalam sebuah pertikaian, Bima dihukum tahanan. Widura yang memiliki kekuasaan untuk membebaskan Bima memilih untuk tidak melakukannya. "Kau dimasukkan ke dalam tahanan agar kuat dan tertib dalam menjalani kehidupan. Semua ini pasti ada hikmahnya," kata Rio menceritakan ucapan Widura kepada Bima.

    Rio mengatakan kasus yang dihadapinya berat bagi dirinya dan keluarganya. Oleh sebab itu, ia meminta pertimbangan keringanan. Ia kembali membuat pengandaian sebagai terdakwa yang dihukum mati. "Sepuluh senjata diarahkan kepada terdakwa mati, hanya satu yang berisi peluru. Jangan saya dihukum dengan dua peluru, cukup satu peluru karena pasti akan mematikan saya," kata Rio.

    Patrice Rio adalah terdakwa kasus dugaan suap untuk mengamankan kasus Gatot di Kejaksaan Agung. Ia ditetapkan menjadi tersangka pada 15 Oktober 2015. Selain Rio, Gatot dan Evy juga sudah ditetapkan sebagai tersangka. Akibat kasus ini, Rio mundur dari jabatannya sebagai anggota DPR dan Sekjen Partai NasDem.

    Menurut jaksa, Rio terbukti menerima Rp 200 juta dari Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti. Uang tersebut diberikan melalui teman Rio, pegawai magang di kantor OC Kaligis, Fransisca Insani Rahesti.

    Atas perbuatannya, Rio dijerat dengan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1989 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan korupsi. Ia dituntut dua tahun penjara.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga