Senin, 28 Mei 2018

Pilkada Kutai Kartanegara: Rita Widyasari tak Tertandingi

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kutai Kartanegara telah menjadi daerah yang jauh lebih baik dengan berbagai pembangunan yang dikemas dalam Gerbang Raja.

    Kutai Kartanegara telah menjadi daerah yang jauh lebih baik dengan berbagai pembangunan yang dikemas dalam Gerbang Raja.

    INFO NASIONAL -  Hasil hitung cepat yang dilaksanakan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Lembaga Survey Kebijakan Publik (LSKP) untuk Pilkada Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, menempatkan pasangan Rita Widyasari-Edi Damansyah unggul telak atas pasangan lainnya. Lembaga survei ini mencatat Rita Widyasari meraih 88,76 persen, sementara tiga kandidat lainnya tidak ada yang mampu meraih suara hingga 5 persen.

    Menurut perhitungan LSI,  pasangan Sugianto dan Rudi Hartono memperoleh 3,43 persen suara, sedangkan Awang Wahyu dan Andi Katanto mendapat 4,19 persen suara. Pasangan Idham Khalid dan Abdul Kadir memperoleh 3,62 persen suara dari total 100 persen jumlah suara yang masuk.

    Rita, yang merupakan petahana atau inkumben dalam pemilihan Bupati Kutai Kartanegara, merasa sangat gembira dan mengucap syukur atas kemenangan versi hitung cepat atau quick count. “Subhanallah, Alhamdulillah, melampaui target yang ditetapkan. Kepercayaan rakyat luar biasa kepada saya. Allahu Akbar,” ujar Rita Widyasari.

    Saat para relawan menetapkan target 80 persen, ia merasa ketinggian. "Lebih baik targetnya 60 persen saja. Tapi relawan memang hebat. Mereka tidak hanya memprediksi, tapi juga bekerja maksimal. Terima kasih untuk para relawan yang sudah bekerja keras,"katanya. Karena itu, Rita berkali-kali mengucapkan kalimat syukur. Kemenangan ini dianggap sebagai kado terbaik untuk masyarakat Kutai Kartanegara.

    Dalam pilkada kali ini, Rita Widyasari, yang menggandeng Sekretaris Daerah pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara Edy Darmansyah sebagai calon wakil bupatinya, mendaftarkan diri ke KPU Kabupaten Kutai Kertanegara melalui jalur independen. Inilah fenomena yang langka dan menarik dalam percaturan politik. Rita, yang juga Ketua DPD Golkar Kabupaten Kutai Kertanegara, memilih jalur independen, kendati sejumlah partai politik, di antaranya PDIP, PAN, PKS, Gerindra, dan Hanura, menyatakan komitmennya memberi dukungan.

    Bahkan pembelajaran cara berpolitik yang baik bagi para politikus di Tanah Air juga  ditunjukkan Rita dengan memberikan surat persetujuan pada sesama kader Partai Golkar, Idham Khalid dan H Abdul Kadir, agar dapat maju memperebutkan kursi Bupati dan Wakil Bupati Kutai Kertanegara. Keputusan memberikan persetujuan bagi calon lawan bertandingnya tentu tidaklah mudah dan benar-benar membutuhkan kedewasaan berpolitik. Rita Widyasari telah membuktikannya dan patut dicontoh para politikus di Tanah Air.

    Bahkan KPUD Kabupaten Kutai Kertanegara sempat menetapkan Rita Widyasari dan Edy Damansyah sebagai satu-satunya pasangan calon kepala daerah yang lolos verifikasi administrasi.

    Kemenangan Rita Widyasari sudah lama diprediksi, mengingat selama kepemimpinannya pada 2010-2015, Kutai Kertanegara telah menjadi daerah yang jauh lebih baik dengan berbagai pembangunan yang dikemas dalam Gerbang Raja, yaitu Gerakan Pembangunan Rakyat Sejahtera.

    Gerbang Raja memiliki makna khusus, terdiri atas dua kosa kata, yaitu 'gerbang' dan 'raja'. 'Gerbang' diartikan sebagai pintu depan atau pintu pengantar dan 'raja' dimaknai sebagai kesejahteraan. Dengan demikian, makna 'Gerbang Raja' dapat diartikan sebagai ‘pintu depan’ atau ‘pintu pengantar ke arah kesejahteraan’.

    Gerbang Raja adalah program pembangunan yang diusulkan oleh Rita Widyasari ketika terpilih sebagai Bupati pada 2010. Dalam Gerbang Raja, terakomodasi berbagai kepentingan dan aspirasi masyarakat yang meliputi good governance,peningkatan sumber daya manusia (SDM), peningkatan pembiayaan daerah, peningkatan pertanian dan pariwisata demi transformasi struktrur ekonomi, peningkatan sumber daya alam (SDA) yang berwawasan lingkungan, pemberdayaan perempuan dan penguatan perlindungan anak.


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Dua Pendaki Mahasiswi Univesitas Parahyangan Gapai Seven Summits

    Pada 17 Mei 2018, dua mahasiswi Universitas Parahyangan, Bandung, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, menyelesaikan Seven Summits.