Indonesianis Ben Anderson Sempat Rencanakan Reuni

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell saat memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell saat memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Surabaya - Satu diantara kolega Indonesianis Benedict Anderson mengungkap rencana reuni antara Ben dengan sejumlah mantan mahasiswa bimbingannya di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Reuni sudah diagendakan di Bangkok, Thailand, pada pekan depan atau segera setelah agenda kuliah umum Ben di Kampus Universitas Indonesia di Depok, Kami 10 Desember 2015.

    “Kami janjian bersama mbak Khanis Suviati, ‘nanti minggu depan ketemu yuk, reuni di Bangkok.’ Beliau punya apartemen di sana,” kata Dede Oetomo saat dihubungi Tempo, Minggu, 13 Desember 2015.

    Dede, pendiri komunitas GAYa Nusantara, adalah bekas mahasiswa bimbingan Ben Anderson di Universitas Cornell. Dia mengaku sempat berbincang dengan Ben di telepon pada Jumat malam, 11 Desember sekitar pukul 20.00. Kala itu Ben sedang dalam perjalanan di dalam mobil, diantar menginap di Hotel Santika Surabaya.

    “Kami ngobrol sangat singkat, karena ternyata pak Ben sudah susah mendengar,” ujar dia.

    Pada Jumat malam, Dede terbersit ingin mampir sebentar. Tapi Khanis memintanya agar diurungkan saja, mengingat kondisi Ben harus beristirahat. “Sampai akhirnya.saya kaget banget dengar berita beliau sudah meninggal.”

    Ben pernah menjadi dosen pembimbingnya saat mengerjakan tesis selama dua tahun. Ia mengambil bidang Linguistik dan mengambil kelas minor kajian Asia Tenggara yang diampu Ben.

    Benedict Anderson, 79, dinyatakan meninggal di Hotel Orchid, Kota Batu, pada Sabtu malam, 12 Desember 2015. Jasadnya kini disemayamkan di Rumah Persemayaman Adi Jasa, Surabaya dan akan dikremasikan. Upacara penghormatan atau buka peti terjadwal pada Selasa, 15 Desember 2015 sekitar pukul 09.00.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.