Kenangan Kolega: Ben Anderson Sangat Cinta Jawa Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell saat memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    Profesor Benedict Anderson dari University of Cornell saat memberikan kuliah Umum di FIB UI, Jakarta, 10 Desember 2015. TEMPO/Frannoto

    TEMPO.CO, Surabaya - Profesor emeritus dalam bidang studi internasional di Universitas Cornell, Benedict Richard O'Gorman Anderson, dikenal sebagai orang yang sederhana. Ahli Indonesia asal Amerika Serikat itu juga mencintai Indonesia, terutama Jawa Timur.

    Khanis Suvianita yang mengantarkan jenazahnya di rumah persemayaman Adi Jasa, Surabaya, mengisahkan kenangan-kenangannya soal pria 79 tahun itu. Benedict Anderson, kata dia, sering kali mengungkapkan kecintaannya terhadap provinsi paling ujung Pulau Jawa tersebut. “Om Ben sangat mencintai Jawa Timur,” ujarnya, Minggu, 13 Desember 2015.

    Ben pun rutin menyempatkan diri ke Jawa Timur dua kali setiap tahun. Saban mendatangi Indonesia, ia selalu berkunjung ke tempat-tempat yang dia biasa datangi. “Biasanya sekitar Maret atau April dan Desember,” tutur Khanis.

    Di Jawa Timur, ia memiliki dua tempat favorit, yakni Petirtaan Jolotundo di Trawas, Kabupaten Mojokerto; dan Candi Belahan atau Sumber Tetek di kawasan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

    Petirtaan Jolotundo merupakan pemandian atau kolam bersejarah yang dibuat pada masa Kerajaan Majapahit. Sedangkan Petirtaan Belahan yang lebih dikenal dengan Candi Belahan, juga merupakan sebuah pemandian sejak masa Kerajaan Airlangga pada abad ke-11. “Dua tempat itu seperti cita-cita yang sering dia ungkapkan bahkan dalam pembicaraannya. Dia selalu pengen ke Jolotundo dan Candi Belahan.

    Saat ini, Khanis dan para koleganya berupaya menghubungi keluarga Ben yang berada di Amerika Serikat. "Kami sedang berusaha menghubungi keluarganya, karena ini berita yang sangat mengejutkan. Kami masih sempat melihat dia ceramah di UI, ketawa-ketawa, lalu sekarang dia tiada,” ujarnya.

    ARTIKA RACHMI FARMITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.