BPOM Musnahkan Obat dan Makanan Ilegal Rp 15 Miliar

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Roy Sparingga menunjukkan obat ilegal dalam konferensi pers di kantor Badan POM, Jakarta, 27 Oktober 2015. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Roy Sparingga menunjukkan obat ilegal dalam konferensi pers di kantor Badan POM, Jakarta, 27 Oktober 2015. TEMPO/Bagus Prasetiyo

    TEMPO.CO, Bandung - Balai Pengawasan Obat dan Makanan (POM) Republik Indonesia memusnahkan obat dan makanan ilegal hasil sitaan setahun di Bandung dan Surabaya setara lebih dari Rp 15 miliar. “Hari ini saja di Surbaya Rp 5,6 miliar, dan di Bandung Rp 10,8 miliar,” kata Deputi I Bidang Pengawasan Produk Terapetik, Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif, Balai POM RI, Tengku Badar Johan Hamid di Bandung, Jumat, 11 Desember 2015.

    Tengku menyaksikan pemusnahan barang sitaan obat dan makanan ilegal yang dikumpulkan Balai Besar POM Bandung setahun terakhir yang diangkut dengan enam truk sampah. Produk ilegal tersebut berjumlah 161.124 kemasan beragam obat, kosmetika, seta pangan ilegal. Terdiri dari 21 ribuu kemasan obat, 108 ribu kemasan, 3 ribu kemasan obat tradisional, serta 27 ribu kemasan pangan.

    Menurut Tengku, sebelumnya Balai POM telah memusnahkan serempak di delapan kota di Indonesia produk obat dan kosmetika ilegal senilai Rp 51,5 miliar. “Serentak di Kendari, Semarang, Bandar Lampung, Palembang, Medan, Pekanbaru, Serang, dan Jakarta,” kata dia.

    Tengku mengatakan, tahun ini pemusnahan terbesar berasal dari temuan obat dan kosmetika ilegal di Jawa Barat. “Memang paling besar. Di Jawa Barat ini saja ada 15 ribu pabrik makanan dan obat traddisional yang harus di awasi, jumlahnay paling besar di Indonesia,” kata dia.

    Menurut Tengku, dominan yang ditemukan kosmetika ilegal, baik yang tidak memiliki izin edar, juga mengandung bahan berbahaya seperti merkuri. “Paling banyak komestika dari Cina, paling besar,” kata dia.

    Tengku mengatakan, umumnya penindakan hanya bisa menyasar pada distributor obat dan produk makanan ilegal. Dia beralasan, peredaran obat dan makanan ilegal bergerak dengan sistem sel yang saling terpisah. “Biasanya yang kena paling ujung, tidak bosnya. Tapi tahun depan kita coba lebih ke hulu, pabriknya," kata dia.

    Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengatakan, hasil sitaan Balai POM itu menunjukkan peredaran obat dan makanan ilegal di wilayahnya mengkhawatirkan. “Dengan jumlah penduduk 46 juta, terpadat di Indonesia, menjadikan Jawa Barat sasaran empuk pengedar obat, kosmetika dan pangan ilegal,” kata dia sela pemusnahan obat dan makanan ilegal itu di Bandung, Jumat, 11 Desember 2015.

    Deddy meyakini, peredaran obat dan makanan ilegal di Jawa Barat jumlahnya lebih banyak lagi karena kemudahan akses dan infrastruktur di Jawa Barat. “Kalau dilihat 160 ribu pieces komoditi ini yang ketahuan saja, yang belum ketahuan berapa banyak? Ini menurut saya baru puncak gunung es, yang tidak terdeteksi berapa banyak?” kata dia.

    Menurut Deddy, dengan besarnya potensi pasar dan kemudahan akses dan infrastrukturnya, operasi pengawasan perederan obat dan makanan di Jawa Barat harus makin ketat. “Pengawasan ini harus lebih ketat dibanding daerah lain sebab masyrakatnya sangat besar, pasar yang besar tadi sangat sulit dikendalikan kalau tidak diperketat sistem pengawasannya,” kata dia.

    Dia meminta masyarakat aktif melaporkan jika mendapati obat dan produk makanan yang mencurigakan. “Masa ada pil namanya ‘Empot-Empotan’, mana mungkin Balai POM memberikan izin, namanya juga gak masuk akal. Kalau kritis sedikit, kita tahu itu palsu. Saya menghimbau masyrakat untuk lebih cerdas mengkonsumsi obat, makanan, dan minuman,” kata Deddy.

    Catatan Balai Besar POM Bandung temuan pelanggaran di bidang pengawasan obat dan makanan dominan oleh temuan kosmetika dan pangan. Sedikitnya sudah 23 perkara yang ditangani aparat penegak hukum dari temuan itu, satu diantaranya sudah mendapat vonis tetap Pengadilan, empat perkara siap disidangkan, selebihnya dalam proses pemberkasan. Vonis yang dijatuhkan Pengadilan bervariasi mulai hukuman percobaan penjara enam bulan, hingga kurungan enam bulan dan denda Rp 20 juta.

    Kepala Balai Besar POM Bandung Abdul Rahim mengatakan, kasus peredaran obat dan makanan ilegal itu melibatkan distributor termasuk produsennya. “Ada beberapa distributor dan produsennya,” kata dia.

    Abdul mengatakan, semua kemasan obat dan makanan ilegal itu akan dimusnahkan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Dia memastikan, semua barang ilegal itu akan diproses dulu sehingga tidak malah dipungut lagi oleh pemulung. “Petugas kita juga hadir memastikan agar jangan sampai dipulung lagi,” kata dia.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?