Papa Minta Saham, Fadli Zon: Catut Nama Presiden Itu Biasa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fadli Zon, Setya Novanto, dan Donald Trump mengenakan topi khasnya.  TEMPO/Dhemas Reviyanto-AP/Brynn Anderson

    Fadli Zon, Setya Novanto, dan Donald Trump mengenakan topi khasnya. TEMPO/Dhemas Reviyanto-AP/Brynn Anderson

    TEMPO.CO, Semarang - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Fadli Zon menganggap percakapan yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto bersama pengusaha minyak M. Riza Chalid dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin merupakan obrolan biasa dalam dunia politik.

    “Orang politik nasional pasti bawa-bawa nama presiden itu biasa. Saya juga biasa bawa-bawa (nama) presiden dan menteri. Itu hal yang biasa dalam obrolan-obrolan itu,” kata Fadli Zon setelah bersaksi dalam kasus pencemaran nama baik dengan terdakwa Ronny Maryanto di Pengadilan Negeri Semarang, Kamis, 10 Desember 2015.

    Fadli malah merasa aneh jika ada yang mempersoalkan pembicaraan informal yang dilakukan Setya Novanto tersebut. Sebab, kata dia, pertemuan tidak melanggar hukum, tapi kemudian digiring sehingga seperti tindak kejahatan.

    Menurut Fadli, jika obrolan tersebut serius, dipastikan akan ada pertemuan lagi untuk menindaklanjuti masalah tersebut. Apalagi masalah pembelian saham juga tidak mudah.

    Setyo Novanto dituding mencatut nama presiden dalam rencana memperpanjang kontrak PT Freeport di Indonesia. Kejadian itu diketahui dalam sebuah rekaman pembicaraan dengan pengusaha Riza Chalid dan Maroef Sjamsoeddin.

    Kasus itu pun dilaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD). Sudirman dan Maroef sudah bersaksi dalam persidangan yang digelar Mahkamah. Selain itu, kasus ini juga tengah diselidiki Kejaksaan Agung.

    ROFIUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.