PBNU Gelar Tahlil Tujuh Hari Wafatnya Slamet Effendy Yusuf  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Slamet Effendy Yusuf meminta untuk difoto seorang diri saat acara Lembaga Kajian MPR yang ia hadiri di Bandung sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya,  2 Desember 2015. Foto: WhatsApp Grup PBNU

    Slamet Effendy Yusuf meminta untuk difoto seorang diri saat acara Lembaga Kajian MPR yang ia hadiri di Bandung sesaat sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, 2 Desember 2015. Foto: WhatsApp Grup PBNU

    TEMPO.CO, Jakarta - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menggelar acara tahlil dan doa tujuh hari wafatnya Slamet Effendy Yusuf, Wakil Ketua Umum PBNU, di kantor PBNU, Jakarta, Rabu malam, 9 Desember 2015.

    "Beliau putra NU yang baik dan tak pernah surut semangatnya," kata Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj saat ditemui di kantor PBNU.

    Said menceritakan bagaimana dia mengenal Slamet Effendy ketika kuliah di Yogyakarta. Saat itu Slamet merupakan Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan Said merupakan mahasiswa baru. "Saya kader beliau," ucapnya.

    Slamet dan Said Aqil sama-sama berjuang sebagai mahasiswa dalam aksi-aksi demonstrasi menentang pemerintah saat itu. "Demo Ali Murtopo, demo berantas judi," ujarnya.

    Meski mengetahui riwayat penyakit jantung yang dimiliki Slamet, Said tetap terkejut saat mengetahui sahabatnya itu meninggal dunia. "Saya tak sangka," ujarnya.

    Slamet meninggal dunia di Bandung pada Rabu, 2 Desember 2015. Saat itu dia tengah mengikuti rangkaian kegiatan bersama Lembaga Pengkajian Majelis Permusyawaratan Rakyat.

    Slamet meninggal dunia di Hotel Ibis, tempatnya menginap. Ia pernah menjadi Ketua MPR periode 1988-1993 dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada 1992-2009 dari Partai Golongan Karya.

    DIKO OKTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.