Rawan, Pilkada Banyuwangi Dijaga Brimob Mabes Polri

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi menghalau pengunjung rasa yang merangsek masuk lokasi tambang saat berunjuk rasa menolak keberadaan tambang emas Tumpang Pitu di Pensanggrahan, Banyuwangi, 18 November 2015.  ANTARA/ Budi Candra Setya

    Polisi menghalau pengunjung rasa yang merangsek masuk lokasi tambang saat berunjuk rasa menolak keberadaan tambang emas Tumpang Pitu di Pensanggrahan, Banyuwangi, 18 November 2015. ANTARA/ Budi Candra Setya

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Sebanyak 100 personel Brigade Mobil Markas Besar Polri diturunkan untuk menjaga pelaksanaan pemilihan bupati-wakil bupati Banyuwangi 9 Desember 2015. Pasukan Brimob Mabes Polri tersebut dikerahkan khusus pasca-kerusuhan di lokasi tambang emas milik PT Bumi Suksesindo pada Rabu 25 November lalu.

    Kepala Kepolisian Resor Banyuwangi, Ajun Komisaris Besar Bastoni Purnama, mengatakan, pasukan Brimob Polres tersebut tiba di Banyuwangi pada Minggu malam, 6 Desember 2015. “Pasca-kerusuhan, pengamanan di Kecamatan Pesanggaran kami tingkatkan saat Pilbup,” kata Kapolres kepada wartawan di Kantor Kecamatan Pesanggaran, Senin 7 Desember 2015.

    Menurut Kapolres Bastoni, setiap tempat pemungutan suara (TPS) di Pesanggaran akan dijaga oleh 1 polisi dan dua anggota Linmas. Dia optimistis Pilbup bisa berjalan lancar, karena situasi masyarakat di sekitar tambang emas mulai kondusif.

    Untuk mencairkan suasana menjelang Pilbup, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar doa bersama di Kantor Kecamatan Pesanggaran,  siang hari ini. Acara itu diikuti Forum Pimpinan Daerah, perwakilan direksi PT Bumi Suksesindo serta 100 tokoh agama dan tokoh masyarakat.

    Sementara itu sekitar 50 warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, Jawa Timur hingga hari ini belum pulang ke kampung halamannya. Mereka meninggalkan rumah pasca-kerusuhan di lokasi tambang emas.

    Kepala Dusun Pancer, Mudassar, mengatakan, warganya yang meninggalkan kampung itu sebagian besar laki-laki. Akibatnya, aktivitas penangkapan ikan di Pelabuhan Pancer saat ini sepi. Sebab warga yang meninggalkan kampung itu sehari-harinya bekerja sebagai nelayan. “Kalau pulang, mereka takut ditangkap polisi,” kata Mudassar.

    Mudassar mengakui banyak warganya yang ikut unjuk rasa ke lokasi tambang. Namun mereka belum terbukti ikut serta merusak dan membakar infrastruktur tambang. Bila belum kembali hingga 9 Desember, kata Mudassar, maka potensi warganya yang menjadi golput cukup besar. Padahal ada delapan TPS di Dusun Pancer dalam Pilbup mendatang.

    Oleh karena itu, Mudassar meminta agar Polres menghentikan proses hukum terhadap warga Dusun Pancer. Polres juga diminta menghentikan patroli di kampungnya. Mudassar mengklaim bahwa warganya bersedia berdamai apabila ada jaminan dari polisi tidak mengusut kerusuhan tersebut. “Kami mohon maafkan warga kami,” katanya.

    Pada 25 November 2015, ribuan warga menyerbu perkantoran dan lokasi tambang PT Bumi Suksesindo di Desa Sumberagung. Massa merusak dan membakar hampir seluruh infrastruktur tambang. Kerusuhan ini berbuntut bentrok antara warga dan aparat keamanan. Sedikitnya empat warga terkena tembak dan dua polisi juga mengalami luka berat.

    IKA NINGTYAS



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.