Cara Ini Dilakukan Panwaslu untuk Awasi Politik Uang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memusnahkan lembaran surat suara Pemilihan Gubernur Jambi yang rusak di Jambi, 7 Desember 2015. Sebanyak 181.747 lembar surat suara yang ditemukan rusak dimusnahkan bersama Panwaslu, dan Kepolisian daerah.  ANTARA/Wahdi Septiawan

    Petugas memusnahkan lembaran surat suara Pemilihan Gubernur Jambi yang rusak di Jambi, 7 Desember 2015. Sebanyak 181.747 lembar surat suara yang ditemukan rusak dimusnahkan bersama Panwaslu, dan Kepolisian daerah. ANTARA/Wahdi Septiawan

    TEMPO.COBandung - Panitia Pengawas Pemilu Kabupaten Bandung menerjunkan sekitar 5.246 anggotanya, yang terdiri dari elemen masyarakat, untuk mengawasi proses pemilihan kepala daerah di Kabupaten Bandung. Sejumlah anggota Panwaslu tersebut akan disebar ke setiap tempat pemungutan suara pada sebelum dan sesudah pencoblosan pada 9 Desember nanti

    Ketua Panwaslu Kabupaten Bandung Ari Haryanto mengatakan, sejumlah petugas tersebut akan dibantu pihak kepolisian yang bertugas memantau adanya kecurangan yang dilakukan oleh pasangan calon bupati dan wakil bupati. Adapun indikasi kecurangan yang akan diwaspadai diantaranya, sawer uang terhadap masyarakat atau politik uang dan kampanye terselubung.

    "Kami juga akan meminta peran aktif masyarakat dan media untuk melaporkan adanya kecurangan yang dilakukan kandidat," ujar Ari kepada Tempo, Senin, 7 Desember 2015.

    Ari pun mengatakan, selama masa tenang yang sudah bergulir sejak hari ini, Senin, 7 Desember 2015, pihaknya telah mewanti-wanti kepada para kandidat untuk tidak coba-coba melakukan akrivitas yang menjurus pada seruan atau ajakan terhadap masyarakat.

    Selain itu, ia akan berkoordinasi dengan kepolisian untuk menindak praktik politik uang atau memberikan uang kepada masyarakat dengan tujuan menyuap agar memilih. "Politik uang kami akan antisipasi. Akan ada intel kepolisian yang difokuskan pada locus-locus yang rawan politik uang," kata dia.

    Ari mengatakan, praktik politik uang rawan terjadi di daerah perkotaan dan perkebunan. Kegiatan sawer-sawer uang kepada masyarakat pun rawan terjadi saat distribusi formulir C6. Ari mengatakan, hal tersebut berpotensi terjadi apabila pihak penyelenggara Pemilu sudah berkongsi dengan salah satu pasangan calon. "Yang juga harus diawasi adalah independensi dari panitia penyelenggara," kata dia.

    Pada Pilkada 2015 ini, ada tiga pasangan calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Bandung yang berpentas. Mereka diantaranya, Sofyan Yahya-Agus Yasmin, Dadang Naser-Gungun Gunawan, dan pasangan Deki Fajar-Dony Mulyana.

    Kepolisian Daerah Jawa Barat pagi tadi, telah melakukan apel persiapan pengamanan pemilu di 8 kota/kabupaten di Jawa Barat. Kepala Polda Jabar Inspektur Jendral Polisi Moechgiyarto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan 2 ribu personel yang akan membantu mengawasi dan menindak pelaku kecurangan para kandidat.

    Kapolres Karawang, Ajun Komisaris Besar Andy Mochammad Dicky Pastika Gading, mengaku sampai saat ini, belum mengetahui ihwal praktik bagi-bagi uang di pilkada Karawang. Ia mengatakan praktik politik uang itu sulit dilacak. "Serangan fajar itu bisa kita cium baunya, tapi barangnya tidak ada," ujar Dicky saat ditemui usai apel gelar pasukan untuk pengamanan pilkada di lapangan Karangpawitan, Senin, 7 Desember 2015.

    Dalam apel itu, digelar ribuan pasukan yang siap diturunkan untuk mengamankan pilkada di seluruh wilayah Karawang. Terlihat hadir Cellica Nurrachadiana, calon inkumben pilkada Karawang. Nampak juga calon bupati nomor urut 1, Nace Permana dan wakil cabup nomor urut 5, Asep Agustian.

    Dua hari menjelang pilkada, isu tebar uang beredar di Karawang. Dicky mengaku siap mengarahkan anggotanya untuk menindak pelaku praktek politik uang di Karawang. "Kita akan proses langsung. Jika memenuhi minimal 2 alat bukti, kita tindak langsung," kata dia.

    Sampai saat ini, ia mengaku belum mendapat informasi dari anggotanya ihwal politik uang di Karawang. "Kita menunggu laporan dari Panwaslu dan Gakumdu. Tanpa ada laporan, kita tidak bisa bertindak sembarangan," katanya Dicky. "Tradisi serangan fajar itu mencederai demokrasi. Masyarakat harus bijak. Calon yang melakukan serangan fajar merupakan calon pemimpin yang tak berkualitas. Ujung-ujungnya melakukan korupsi," ungkap dia.

    Isu tebar uang juga mendapat perhatian dari Nace Permana. Pupuhu Lembaga Swadaya Masyarakat Lodaya ini, mengaku siap mengutus 1000 orang anggota ke setiap kecamatan, untuk menangkap para pelaku praktik bagi-bagi duit. "Mereka semua bisa beladiri. Pokonya saya perintahkan mereka untuk gebukin pelaku bagi-bagi uang. Jika hukum sudah tidak mempan bagi mereka," ungkap Nace.

    Ia mengatakan, sebagian masyarakat Karawang masih bisa dipengaruhi oleh politik uang. "Jangankan pilkada, pemilihan kepala desa di Karawang pun pake politik uang," ungkap Nace.

    IQBAL T. LAZUARDI S. | HISYAM LUTHFIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.