Jurnalis Asing Jadi Korban Kekerasan, Ini Penjelasan Kapolda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi: TEMPO/Machfoed Gembong

    Ilustrasi: TEMPO/Machfoed Gembong

    TEMPO.CO, Jakarta - Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian mengaku anak buahnya tidak tahu kalau dua orang asing yang menjadi korban kekerasan polisi pada aksi demonstrasi Papua 1 Desember 2015 adalah jurnalis media asing. Dua jurnalis asing ini menjadi korban kekerasan oleh polisi berpakaian sipil saat meliput demontrasi mahasiswa Papua di Bundaran HI, Selasa, 1 Desember 2015.

    Tito mengatakan, polisi berhak melakukan pembubaran apabila massa demonstran tidak mengindahkan batasan waktu saat unjuk rasa. "Kemarin jelas ada kerumunan yang ilegal di Bundaran HI karena tata caranya tidak sesuai dengan UU," kata Tito.

    Di kerumunan tersebut, kata dia, bisa saja ada demonstran, tukang asongan, pengacara, dan wartawan. Semua termasuk dalam bagian kerumunan. "Anggota kita enggak paham mana wartawan mana bukan. (Semua--) tetap kerumunan. Jadi kalau diperintahkan untuk bubar, ya bubar," kata Tito Karnavian saat ditemui wartawan di Mapolda Metro Jaya, Rabu, 2 Desember 2015.

    Lebih lanjut Tito juga mengajak wartawan untuk membaca dan memahami pasal 218 KUHP yang menyebutkan barang siapa yang berkerumun lalu diperintahkan oleh pejabat yang berwenang 3 kali untuk membubarkan diri tapi tidak membubarkan diri, dapat dikenakan pidana 4 bulan dua minggu. "Semua baca dong pasal 218 KUHP," ujarnya.

    Kendati demikian, Tito mengaku tidak tahu ada polisi yang memaksa dua jurnalis asing untuk menghapus rekaman video di telepon pintar mereka. Tito memastikan akan ada penyelidikan dan tindakan tegas bila hal tersebut benar terjadi.

    Kepada wartawan, Tito menyarankan wartawan sebaiknya menjaga jarak dari kerumunan demonstrasi. Kedekatan fisik menjadi tidak perlu karena, "Sekarang kan ada banyak alat canggih, dengan jarak 100 meter bisa men-zoom wajah dan lain-lain. Ya begitu caranya," ujarnya.

    Kasus kekerasan terhadap jurnalis berawal dari aktivitas jurnalistik yang dilakukan keduanya di sela-sela demonstrasi AMP yang berakhir rusuh di Jl. Sudirman, Jakarta. Archicco Guilliano atau Chicco, mengabadikan peristiwa kekerasan yang dilakukan polisi kepada pengunjuk rasa AMP. Beberapa polisi yang melihat itu kemudian mendekati Chicco dan memintanya menghapus rekaman di kameranya.

    Kemudian peristiwa yang dialami Chicco tersebut diabadikan oleh Stephanie melalui kamera telepon selulernya. Stephanie hadir di lokasi itu juga untuk meliput demonstrasi AMP. Polisi yang mengetahui Stephanie sedang mengabadikan kekerasan polisi pada Chicco beralih marah ke Stephanie dan meminta Stephanie menghapus video di teleponnya.

    INGE KLARA SAFITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?