Anda Tak Akan Menemukan Nasi di Restoran Bandung Tiap Senin

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jalur historical walk yang akan digunakan para kepala negara menuju Gedung Merdeka dari depan Hotel Homann di Bandung, Jawa Barat, 2 April 2014. Peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) akan digelar di Bandung pada 19-24 April 2015. Ada 109 negara di kawasan Asia-Afrika yang diundang dalam peringatan KAA ke-60 ini. TEMPO/Prima Mulia

    Jalur historical walk yang akan digunakan para kepala negara menuju Gedung Merdeka dari depan Hotel Homann di Bandung, Jawa Barat, 2 April 2014. Peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) akan digelar di Bandung pada 19-24 April 2015. Ada 109 negara di kawasan Asia-Afrika yang diundang dalam peringatan KAA ke-60 ini. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Disepertan KP) melakukan sosialisasi program One Day No Rice kepada 60 pengusaha hotel dan restoran di Kota Bandung, Kamis, 3 Desember 2015.

    "Sosialisasi kepada 60 pengusaha hotel dan restoran ini sebagai tindak lanjut launching program One Day No Rice pada Agustus 2015 lalu," kata Kepala Dispertan KP Elly Wasliah di Hotel Grand Serela, Jalan Riau, Kota Bandung, Kamis pagi.

    Elly menambahkan, setiap Senin, para pengusaha hotel dan restoran diimbau untuk tidak menyediakan nasi dan menggantinya dengan umbi-umbian, kentang, jagung, dan makanan penghasil karbohidrat lainnya.  "Tujuannya untuk mengurangi konsumsi beras. Karbohidrat tidak hanya beras," tuturnya.

    Konsumsi beras masyarakat Bandung, ujar Elly, terbilang cukup tinggi, yakni mencapai 96 kilogram per kapita per tahun. Dengan program One Day No Rice ini, angka konsumsi beras di kota Bandung diharapkan bisa turun agar impor beras juga tidak terlalu tinggi.  "Kalau di negara maju seperti Jepang saja 40 sampai 60 kilogram per kapita per tahun," tuturnya.

    Di tempat yang sama, Dewo Anggono, Executive Chef Hotel Royal Merdeka, mengatakan sulit untuk mengubah menu nasi menjadi umbi-umbian meskipun hanya satu hari.  "Kita sudah mencoba tampilan pakai beras singkong, tapi belum familiar untuk makan siang," ujarnya.

    Dewo menambahkan, umbi-umbian kurang cocok disajikan untuk makan berat, seperti makan siang. "biasanya untuk coffee break," ucapnya. Selain itu, Dewo mengaku kesulitan mendapatkan penganan pengganti nasi, seperti beras jagung atau beras singkong. Selain sulit, harganya juga lebih mahal.

    PUTRA PRIMA PERDANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wiranto Ditusuk Seseorang yang Diduga Terpapar Radikalisme ISIS

    Menkopolhukam, Wiranto ditusuk oleh orang tak dikenal yang diduga terpapar paham radikalisme ISIS. Bagaimana latar belakang pelakunya?