JK Sindir Setya di Konferensi Korupsi: Dia Sudah Hilang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 2015 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 14 Agustus 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 2015 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 14 Agustus 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyindir ketidakhadiran Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dalam Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi hari ini. Dalam acara itu, Setya diwakili Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

    Baca juga:
    Rekaman Setya: Percakapan Inikah Disebut Permufakatan Jahat?

    Rekaman Dibuka: Setya Novanto Minta Istana Dibangun di Papua

    "Jadi ketua lembaga tinggi yang hadir tinggal dua, yaitu MPR dan DPD. Yang satu sudah hilang," kata Kalla saat membuka Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi di Kompleks Parlemen‎, Senayan, Jakarta, Kamis, 3 Desember 2015.

    Selain diikuti Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Ketua DPD Irman Gusman, acara itu dihadiri beberapa pejabat tinggi lain, seperti pelaksana tugas Ketua KPK Taufiequrrachman Ruki, Kepala Kepolisian RI Jenderal Badrodin Haiti, Ketua Komisi Pemilihan Umum Husni Kamil Manik, dan beberapa menteri Kabinet Kerja. ‎(Lihat video: Transkip Beredar, Setya Novanto Makin Tersudut)

    Ketua DPR Setya Novanto memang sedang menjadi perbincangan hangat publik. Politikus Partai Golongan Karya ini diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Pencatutan itu dilaporkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said kepada Mahkamah Kehormatan Dewan.

    MKD akhirnya menyidangkan dugaan pelanggaran etik itu. Dalam sidangnya semalam, MKD mengundang Menteri Sudirman Said sebagai pengadu.

    Pada kesempatan itu, ‎Mahkamah memperdengarkan rekaman suara Novanto, Direktur Utama PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, dan pengusaha Riza Chalid dalam sebuah pertemuan.

    Kalla menuturkan rekaman itu ‎membuktikan adanya sebuah kekuatan besar yang ingin merugikan negara. Bahkan dia menilai kelompok tersebut congkak karena sesumbar menguasai banyak hal di Indonesia.

    "Kenapa seperti ada dua hal di Indonesia: kelompok pemberani dan penakut. Tragis, semalam kita lihat keberanian luar biasa. Dengan congkak, semua dapat dikuasai. Semalam kita sama-sama melihat adanya sebuah keserakahan. ‎Bukan sekadar alasan cari makan, tapi memperkaya diri," kata Kalla.

    FAIZ NASHRILLAH‎

    Baca juga:
    3  Faktor yang Membuat Setya Novanto Sulit Ditolong!
    Penjara Dijaga Buaya: Kenapa Ide Budi Waseso Tak Manjur?



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    KPK Berencana Menghapus Hasil Penyadapan 36 Perkara

    Terdapat mekanisme yang tak tegas mengenai penghapusan hasil penyadapan 36 penyelidikan yang dihentikan KPK.