Soal Kontroversi Helikopter Presiden, Menteri Pertahanan Pasrah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Heli AW 101 diproduksi oleh Westland dari Inggris dan Agusta dari Italia. Kerjasama dua perusahaan ini menghasilkan helikopter medium yang memiliki kemampuan beragam, yaitu untu angkut pasukan, anti kapal selam, SAR, dan VVIP, bahkan Italia menjadikan AW 101 sebagai helikopter peringatan dini atau airborne early warning. Heli generasi akhir ini menggabungkan sistem avionik, navigasi, komunikasi, dan keamanan pada tingkatan yang sangat tinggi, ini menjadi alasan mengapa AW 101 harganya mahal. Heli AW101 mampu diterbangkan dengan menggunakan NVG, sehingga pilot dapat menerbangkan heli ini dalam keadaan gelap gulita. AW 101 memiliki kabin yang luas, sangat cocok menjadi helikopter pengangkut VVIP. wikipedia.org

    Heli AW 101 diproduksi oleh Westland dari Inggris dan Agusta dari Italia. Kerjasama dua perusahaan ini menghasilkan helikopter medium yang memiliki kemampuan beragam, yaitu untu angkut pasukan, anti kapal selam, SAR, dan VVIP, bahkan Italia menjadikan AW 101 sebagai helikopter peringatan dini atau airborne early warning. Heli generasi akhir ini menggabungkan sistem avionik, navigasi, komunikasi, dan keamanan pada tingkatan yang sangat tinggi, ini menjadi alasan mengapa AW 101 harganya mahal. Heli AW101 mampu diterbangkan dengan menggunakan NVG, sehingga pilot dapat menerbangkan heli ini dalam keadaan gelap gulita. AW 101 memiliki kabin yang luas, sangat cocok menjadi helikopter pengangkut VVIP. wikipedia.org

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku pasrah terkait dengan keputusan TNI Angkatan Udara yang akan membeli helikopter khusus untuk Presiden Joko Widodo. Menurut dia, pembelian helikopter tersebut sudah beberapa kali diusulkan.

    “Ini kan sudah beberapa kali disarankan," katanya di kantor Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Rabu, 2 Desember 2015.

    TNI Angkatan Udara mengumumkan rencana pembelian helikopter AW-101 sebagai pengganti Super Puma, yang telah berumur 25 tahun. Satu unit AW-101 akan tiba di Tanah Air pada 2016, menyusul dua unit lain pada 2017.

    Sejumlah kalangan sebelumnya mengkritik pengadaan helikopter tersebut. Sebab, tidak hanya tak melibatkan industri dalam negeri, tapi harga helikopter ini pun dinilai lebih mahal dibanding buatan PT Dirgantara Indonesia (PTDI).

    Menurut Ryamizard, keputusan membeli helikopter tersebut memang kewenangan Kementerian Pertahanan. Dia mengaku sudah meminta informasi kepada TNI AU dan menanyakan soal untung dan rugi pembelian helikopter tersebut.

    Ryamizard mengaku yakin akan pilihan TNI AU tersebut. Menurut dia, pembelian helikopter ini sudah melalui kajian dengan baik. "Yang paling tahu perlunya kan mereka (TNI AU) karena mereka pemakainya," katanya.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.