Isu Syiah Jadi Target, Kapolri Minta Masyarakat Waspada  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pemangku adat kerajaan Bone memberikan keris kepada Kapolri Jenderal Badrodin Haiti sebagai simbolis gelar bangsawan di Makassar, Sulawesi Selatan, 24 November 2015. Kapolri dianugerahkan gelar Andi Temmu Padang Petta Tikkedari dari kerajaan Bone yang mengandung makna lelaki perkasa yang mempersatukan, mempertemukan wilayah dengan teliti, cermat, hati-hati dan penuh kewaspadaan. TEMPO/Iqbal Lubis

    Seorang pemangku adat kerajaan Bone memberikan keris kepada Kapolri Jenderal Badrodin Haiti sebagai simbolis gelar bangsawan di Makassar, Sulawesi Selatan, 24 November 2015. Kapolri dianugerahkan gelar Andi Temmu Padang Petta Tikkedari dari kerajaan Bone yang mengandung makna lelaki perkasa yang mempersatukan, mempertemukan wilayah dengan teliti, cermat, hati-hati dan penuh kewaspadaan. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti meminta masyarakat, termasuk warga Syiah, waspada. "Kami minta semua waspada," katanya di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Rabu, 2 Desember 2015.

    Badrodin mengatakan isu bahwa kelompok Syiah menjadi target teror merupakan isu yang sudah lama. Apalagi keberadaan Syiah di Indonesia pun sudah lama.

    Menurut dia, ancaman teror selama ini bukan hanya tentang Syiah yang menjadi target. "ISIS juga ada ancamannya kepada Polri, Panglima TNI, pejabat densus, juga orang Syiah yang sudah lama ada," ucapnya.

    Menurut dia, penegak hukum sudah meningkatkan pengamanannya di seluruh pintu masuk menuju Indonesia. "Kalau Anda ke bandara kan ada peningkatan pengamanan. Bila ke tempat umum kan juga ada," ucapnya.

    Badrodin baru selesai menggelar rapat dengan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. Selain membahas tentang ancaman teror, Badrodin mengaku berdiskusi tentang pemberdayaan di Badan Narkotika Nasional.

    Sebelum berbicara langsung dengan Badrodin, Luhut mendatangi Balai Kota. Di kantor Gubernur DKI Jakarta itu, Luhut mengatakan dirinya mengadakan rapat terkait dengan aksi teroris guna menindaklanjuti informasi dari Badan Intelijen Negara dalam sebulan terakhir. "Selama sebulan ini kami konsentrasi karena info dari intelijen bahwa ada kelompok Syiah akan dijadikan target," katanya.

    Luhut akan membahas soal pengamanan dan antisipasi perihal ancaman itu. "Kami ingin Indonesia tidak seperti di Suriah atau Irak," katanya saat di Balai Kota.

    MITRA TARIGAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.