Menag: Pesantren Ajarkan Islam yang Tidak Esktrim

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan santri bukan sosok yang mudah menumpahkan darah.

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menegaskan santri bukan sosok yang mudah menumpahkan darah.

    INFO NASIONAL - Tidak ada yang ragu dengan kontribusi pesantren. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga sekarang, pesantren terus berkontribusi dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan, pesantren adalah penjaga Indonesia untuk tetap menjadi bangsa yang religious.

    Pesan ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan pada Tasyakuran 54 Tahun Pondok Pesantren Darunnajah serta Penandatangan Piagam Wakaf Tanah dan Bangunan ke-2 seluas 602 Ha di Pondok Pesantren Darunnajah, Ulujami, Jakarta Selatan, Sabtu, 28 November 2015. 

    Hadir dalam kesempatan ini,  Wapres Jusuf Kalla, beberapa pimpinan lembaga negara, KH Makruf Amin, pendiri pondok pesantren Darunnajah, beberapa Duta Besar dan  perwakilan negara sahabat, Ketua pertimbangan MUI, pengasuh Ponpes Tebu Ireng KH Sholahuddin Wahid, serta wali murid dan ribuan santri Pondok Pesantren Darunnajah. “Sejarah bangsa Indonesia mencatat bahwa para santri memiliki peran penting, berdiri di barisan terdepan dalam perebutan kekuasaan pada masa kemerdekaan dahulu,” ujar Menag.

    Di usianya yang ke-54, Menag mengapresiasi Pesantren Darunnajah atas kontribusi besarnya dalam mendidik generasi bangsa dan mendakwahkan Islam yang moderat. Kepercayaan masyarakat terus menguat hingga aset pesantren terus berkembang bahkan hingga memiliki  602 hektare  tanah wakaf, yang tidak banyak dimiliki ponpes lainnya.

    Kembali ke Darunnajah, Menag mengaku seperti pulang kampung. Sebab, Menag berkesempatan bertemu dengan para ulama, kyai, dan guru yang sempat mendidiknya dahulu. “Pondok Pesantren Darunnajah sudah seperti rumah saya sendiri, karena dahulu saya pernah berada di sini saat pelatihan penelitian,” tuturnya. 

    Dikatakan Menag, pesantren adalah lembaga pendidikan khas Indonesia yang mengajarkan Islam washatiyyah, Islam yang tidak ekstrim dan menebarkan rahmatan lila lamin. “Pesantren di Indonesia mengajarkan Islam yang moderat,” ucap Menag.

    Hasilnya,  lanjut Menag,  alumni pesantren menjadi pribadi yang rendah hati Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk. “Santri tidak mudah menyalah-nyalahkan, tidak mudah mengkafir-kafirkan. Santri bukan sosok yang mudah menumpahkan darah. Santri selalu mengajarkan cinta Tanah Air. Inilah yang harus kita jaga,” kata Menag.

    Sementara itu,  Wapres Jusuf Kalla (JK) menyampaikan bahwa mengabdi selama 54 tahun bukanlah hal mudah. Apalagi dalam pengabdian itu, Pesantren Darunnajah berhasil  melahirkan generasi muda yang mengabdi kepada bangsa dan masyarakat. “Keberadaan pesantren di Tanah Air mampu mengembangkan dan membangun bangsa sekaligus beramal dalam menjalankan fungsinya,” kata Wapres.

    Wapres menambahkan, ciri utama pesantren pada kemandirian. Pesantren adalah pendidikan yang berbasis masyarakat, bukan berbasis APBN. “Sebab,  masyarakat mempunyai kemampuan luar biasa dengan hal yang diwakafkan menjadi amal pada sesama,” ucapnya.

    Hal senada disampaikan Pendiri Ponpes Darunnajah KH Mahrus Amin. Menurut dia, Pesantren Darunnajah berdiri dengan semangat untuk memberi, bukan meminta. “Pesantren harus terus berdiri, bekerja dan berfikir apa yang bisa diberikan untuk memajukan bangsa Indonesia,” katanya. (*)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.