Sebelum Cop 21, Presiden Jokowi Bertemu Sekjen PBB  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Logo Konferensi Perubahan Iklim Paris 2015, COP21. REUTERS/Benoit Tessier

    Logo Konferensi Perubahan Iklim Paris 2015, COP21. REUTERS/Benoit Tessier

    TEMPO.COParis - Presiden Joko Widodo akan memulai kegiatannya di Conference of Partie (COP) ke-21 di Parc des expositions du Bourget, Paris, Prancis. Acara pertama yang dihadiri adalah upacara pembukaan Leaders atau Welcoming of leader of Cop 21.

    Presiden Jokowi akan disambut Presiden Prancis Francois Hollande dan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon. Selanjutnya, menurut Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Presiden Joko Widodo dijadwalkan akan berpidato selama tiga menit pada Pertemuan Para Pihak (Conference of Partys/COP) Ke-21 Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).

    Jokowi berbicara setelah Presiden Filipina Benigno Aquino dan Presiden Ukraina Petro Porosenko. Rencananya, akan hadir 147 kepala negara dan kepala pemerintah, termasuk Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Cina Xi Jinping, Perdana Menteri Inggris David Cameron, dan lainnya. Masing-masing akan berpidato selama lima menit pada konferensi puncak iklim yang digelar setiap tahun ini.

    Dalam Konferensi Iklim Paris ini, Indonesia mengirimkan 415 anggota delegasi dan di dalamnya termasuk 40 orang sebagai negosiator. Sedangkan yang lain hadir dalam acara side event atau kepentingan lainnya.

    Menurut Menlu, ada juga sejumlah pertemuan penting terkait dengan bilateral. Di antaranya dengan Belanda, Serbia, dan Norwegia.

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Sofyan Djalil, dalam penjelasannya, mengatakan salah satu agenda Indonesia dalam KTT Perubahan Iklim (21st Conference of the Parties/COP21) di Paris adalah upaya-upaya mencegah kebakaran hutan dan rehabilitasi lahan gambut untuk mengantisipasi percepatan perubahan iklim. "Yang utama adalah pencegahan serius supaya tidak terjadi kebakaran hutan lagi, apalagi disebabkan ulah manusia. Jika dari faktor alam memang kerap sulit diduga. Namun perlu ditekankan kesiapsiagaan," kata Sofyan Djalil.

    Sofyan menjamin pemerintah serius mencegah terulangnya kebakaran hutan dan gambut yang masif terjadi sepanjang 2015, selain akan mempercepat upaya rehabilitasi lahan gambut akibat kebakaran. "Dan tidak akan diberikan konsesi baru untuk pembukaan lahan gambut," ujarnya.

    Indonesia juga akan menyampaikan proses mencapai target penurunan emisi karbon 29 persen pada 2030. Indonesia sudah menyiapkan dokumen Intended Nationality Determined Contribution (INDC) tentang upaya dan proses untuk mencapai targetnya dalam penurunan emisi karbon itu, yang naik 3 persen dari target 2020.

    Sofyan mengatakan penurunan emisi karbon untuk selanjutnya akan difokuskan pada sektor energi, transportasi, pengelolaan sampah, pangan, dan beberapa sektor lain.

    AGUSTINA WIDIARSI (PARIS)


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.