Wapres Soal Helikopter Baru untuk Jokowi: Super Puma Masih Layak Pakai!

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) didampingi Menko Polhukam Luhut B Panjaitan bersiap menyentuh layar untuk membuka IPOC 2015 di Nusa Dua, Bali, 26 November 2015. Prospek harga kepala sawit tahun 2016 juga menjadi salah satu bahasan. ANTARA/Nyoman Budhiana

    Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) didampingi Menko Polhukam Luhut B Panjaitan bersiap menyentuh layar untuk membuka IPOC 2015 di Nusa Dua, Bali, 26 November 2015. Prospek harga kepala sawit tahun 2016 juga menjadi salah satu bahasan. ANTARA/Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla heran mengapa TNI AU berencana membeli helikopter untuk kepresidenan atau VVIP yang baru. Jusuf Kalla mengaku tak dilibatkan TNI AU dalam rencana pembelian helikopter Agusta Westland AW-101 untuk kendaraan kepresidenan.

    "Padahal helikopter yang saya dan Pak Jokowi pakai itu Super Puma, yang sangat bagus ukurannya dan masih baru," kata Kalla di kantornya, Jumat, 27 November 2015. "Super Puma yang ada sekarang itu bukan dibeli atau diproduksi tahun '80-an, melainkan tahun 2000 akhir."

    Kalla mengatakan Super Puma yang ada saat ini dibeli pada saat zaman Presiden Abdurrahman Wahid pada periode 1999-2001. Dia menilai helikopter itu masih layak dan masa pakainya masih panjang. Seharusnya, kata dia, TNI AU tidak perlu mengajukan pengadaan pembelian helikopter baru yang sejenis.

    TNI AU berencana membeli helikopter VVIP Agusta Westland AW-101. Ini adalah helikopter angkut menengah antikapal selam yang bisa digunakan untuk kepentingan militer dan sipil. Agusta Westland AW-101 dikembangkan perusahaan patungan Westland Helicopters asal Inggris dan Agusta asal Italia. Helikopter ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata angkatan laut modern.

    Rencana pembelian ini mendapat kritik, terutama dari PT Dirgantara Indonesia, selaku produsen helikopter Super Puma. Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan pembelian itu tidak sesuai dengan Undang-Undang Industri Pertahanan yang mewajibkan keterlibatan industri nasional dalam pengadaan alat pertahanan dan keamanan dari luar negeri.

    Padahal PT Dirgantara Indonesia sudah bisa memproduksi helikopter sejenis dengan tipe Super Puma Mark II NAS 332 alias EC 225. Namun, bagi Kalla, produksi Super Puma karya PT Dirgantara itu bukanlah sepenuhnya ciptaan anak bangsa. Dia mengatakan PT Dirgantara hanya merakit komponen yang sepenuhnya berasal dari luar negeri. "(Super Puma) itu buatan Prancis. Cuma sebagian di-assembly di PT Dirgantara Indonesia," tuturnya. "Tapi itu buatan Prancis. kita kan baru meng-assembly helikopter. Belum membuat."

    REZA ADITYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.