Di COP 21, Indonesia akan Tagih Komitmen Negara Maju

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir. TEMPO/Natalia Santi

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Christiawan Nasir. TEMPO/Natalia Santi

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, Indonesia siap mengambil kepemimpinan untuk terciptanya climate deal yang baru dalam Conference of Party 21 (COP 21). "Presiden Jokowi memastikan Indonesia menjadi satu negara yang concern pada masalah ini," kata Arrmanatha di Kantor Kementerian di Jakarta, 26 November 2015.

    Menurut Arrmanatha Nasir, pertemuan kepala negara di Prancis dalam Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim membutuhkan dorongan politik. "Tujuan utamanya memberikan political push agar negosiator dapat menghasilkan kesepakatan yang menggantikan kerangka Protokol Kyoto yang akan berakhir 2015 ini," katanya.

    "Indonesia akan memastikan ada persetujuan yang adil sehingga memberikan komitmen mengatasi perubahan, seperti alih teknologi bagi negara berkembang. Itu merupakan elemen penting selain masalah finansial untuk menghadapi perubahan iklim," katanya.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan Kebijakan Ekonomi dan Lingkungan Kementerian Luar Negeri Toffery Soetikno mengatakan, pertemuan COP 21 ini banyak side event yang dapat digunakan Indonesia untuk mengkampanyekan isu perubahan iklim. "Kami yakin langkah Indonesia akan berhasil mencapai target penurunan emisi 29 persen," kata Fery.

    Terkait dengan kebakaran hutan yang terjadi bulan lalu, ia berharap ada kerja sama internasional. Indonesia, kata Fery, akan menjelaskan langkah-langkah antisipasi untuk menanggulangi kebakaran lahan. "Kami juga akan menagih komitmen negara-negara maju," katanya.

    Ia mengatakan, perubahan iklim adalah isu bersama, tapi negara maju dan berkembang memiliki perbedaan tanggung jawab. "Kami minta negara maju untuk melakukan upaya lebih, sedangkan negara berkembang berkontribusi. Negara maju harus memberikan keuangan, transfer teknologi, dan capacity building di negara berkembang," katanya.

    Sebanyak 130 kepala negara akan menghadiri konferensi ini. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dijadwalkan akan berangkat ke Paris akhir pekan ini. Presiden Joko Widodo direncanakan berangkat ke Paris pada 29 November. Dalam konferensi tersebut, Presiden juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan beberapa negara, seperti Belanda, Norwegia, Kenya, Etiopia, Afrika Selatan, dan India.

    ARKHELAUS W


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.