Eks Gerilyawan Moro: Ancaman Santoso Bagian Perang Global

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah personil Brimob berpatroli rutin di Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso Pesisir, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Kapolda Sulteng, Brigjen Idham Azis, mengatakan sepanjang Januari-Maret 2015, sebanyak 12 warga Poso ditangkap terkait kelompok jaringan teroris pimpinan Santoso. ANTARA/Zainuddin MN

    Sejumlah personil Brimob berpatroli rutin di Dusun Gantinadi, Desa Tangkura, Poso Pesisir, Poso, Sulteng, 14 Maret 2015. Kapolda Sulteng, Brigjen Idham Azis, mengatakan sepanjang Januari-Maret 2015, sebanyak 12 warga Poso ditangkap terkait kelompok jaringan teroris pimpinan Santoso. ANTARA/Zainuddin MN

    TEMPO.CO, Lamongan - Bekas kombatan perang Afghanistan dan gerilyawan Moro, Ali Fauzi, mempunyai pandangan menarik soal bos Mujahidin Indonesia Timur, Santoso alias Abu Wardah, yang hendak meledakkan Istana dan Markas Kepolisian Daerah Metro Jaya, Jakarta.

    Menurut pria 45 tahun itu, ancaman itu bagian dari skenario provokasi global imbas dari teror di Paris, Prancis. Santoso disebut-sebut sudah dibaiat bergabung dengan ISIS. “Ini seperti memancing aparat,” kata Ali pada Kamis, 26 November 2015.

    Ali berujar, si pengancam sudah berhitung bahwa respons yang didapat akan sangat cepat. "Itu yang diinginkan."

    SIMAKTeroris Ancam Ledakkan Jakarta, Terkait Jaringan ISIS?

    Namun, Ali berpendapat, kemampuan teroris di Indonesia cenderung melemah dalam lima tahun terakhir. Itu terlihat dari bom yang diledakkan di beberapa tempat yang hanya berkekuatan kecil. "Beda dengan sepuluh tahun lalu," ucap adik terpidana kasus bom Bali I, Amrozi dan Ali Ghufron alias Muklas, tersebut. Tidak ada lagi teroris yang memiliki kemampuan merakit bom seperti dr Azahari dan Noordin M. Top.

    Pelaku teror sekarang, tutur dia, hanya mendapatkan kursus singkat tujuh-sepuluh hari di beberapa tempat di Indonesia. Tempatnya bisa di gunung-gunung atau lokasi terpencil yang tidak diketahui. “Kemampuan merakit bomnya terbatas,” kata warga Solokuro, Lamongan, ini.

    Berbeda dengan anggota Jemaah Islamiyah yang diajari merakit bom di akademi Al-Qaeda, Afganistan, dan memahami amaliah atau operasi jihad. Namun gerakan Jemaah Islamiyah mengendur lantaran banyak tokohnya yang telah tewas, seperti Imam Samudra, Noordin, dan Azahari.

    SIMAKPolisi Sebut ISIS Telah Menyebar di Lima Provinsi Ini

    Pengamat terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie, menuturkan pemerintah tak perlu panik menanggapi ancaman teror Santoso. Jaringan Santoso, menurut dia, hanya beroperasi di Poso dan sulit menembus Jakarta. Kekuatan Mujahidin Indonesia Timur juga telah berkurang lantaran banyak tokohnya yang diringkus polisi. "Mereka tak cukup kuat untuk melakukan teror di Jakarta," ujarnya.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.