Setya Novanto Bikin Rilis, Tiba-tiba Ingat Teladan Gurunya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua DPR, Setya Novanto. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua DPR, Setya Novanto. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua DPR Setya Novanto mengirimkan pernyataan pers ke banyak media, Kamis, 26 November 2015, sehari setelah perayaan Hari Guru Nasional. Rilis itu berisi tentang teladan yang diterima politikus Partai Golkar itu dari gurunya ketika mengenyam pendidikan.

    "Saya menyadari sepenuhnya, peningkatan pendidikan tidak akan pernah melupakan keterlibatan dan peran penting para guru. Merekalah ujung tombak mutu dan kualitas kehidupan bangsa. Turut menentukan wajah Indonesia di hadapan negara-negara lain," kata Novanto, dalam pernyataan tertulisnya yang juga mengenai Hari Guru, Kamis, 26 November 2015.

    Tidak kalah penting, tambah Novanto, guru juga mewariskan teladan tentang bagaimana menjalani kehidupan yang baik. Teladan tentang kehidupan yang berkhidmat pada warisan leluhur. Dan teladan yang tidak sekadar diperoleh dari bangku sekolah, pendidikan formal, tapi dari setiap interaksi kehidupan keseharian.

    "Teladan itulah yang pernah saya peroleh saat mengenyam pendidikan Sekolah Dasar 73 Tebet, Jakarta Selatan dan Sekolah Menengah Atas 9 Jakarta," kata Novanto. Ia menyebut dua sosok guru yang penting dalam kehidupan dia, yaitu Ruhiyat dan Sukati.

    Menurut Novanto, Pak Ruhiyat tak sekadar menempatkan dirinya sebagai sosok pengajar bahasa Indonesia yang terkenal kalem dan penyabar. Selama dididik oleh beliau, Novanto melihat hampir tak pernah ada amarah dari raut wajahnya, meski dikelilingi puluhan siswa dengan tabiat dan perilaku yang cenderung menyebalkan dan menjengkelkan.

    Adapun Sukati, meski ia adalah seorang wanita, luapan amarah dan emosinya senantiasa menghiasi keseharian siswa SMA 9 Jakarta kala itu. Boleh jadi sosok sebagai pengampu mata pelajaran Matematika Al-Jabar, juga turut mencirikan lazimnya guru Matematika yang terkenal "galak".

    "Namun saya mengenang kedua sosok yang cenderung berlainan karakter tersebut memiliki ciri guru dan pendidik yang sesungguhnya. Mereka tidak sekadar mengajarkan apa yang tertera di atas kertas dan tercoret di papan tulis. Mereka mewariskan keteladanan bahwa kesabaran dan amarah yang ditujukan kepada saya mengandung nilai universal tentang bagaimana menghadapi hidup dengan sabar dan mendisiplinkan diri dengan baik," tutur Novanto.

    Setya Novanto mengaku, dari seorang Ruhiyat, ia belajar soal kesabaran menghadapi ujian kehidupan. "Apalagi sebagai public figure yang senantiasa tidak pernah sepi dari fitnah, isu ataupun gosip," ujarnya.

    Dari Sukati, Setya Novanto mengaku mendapat teladan bagaimana mendisiplinkan diri dalam meraih impian dan tujuan hidup. Sukati berpesan, hidup yang cenderung keras membutuhkan ketegasan dan kedisiplinan agar mampu ditaklukkan.

    "Saya berharap, tipikal guru seperti itulah yang mampu berperan penting dalam peningkatan mutu kehidupan bangsa dan negara. Mutu yang tidak sekadar dinilai dari peningkatan material, tapi juga spiritual," imbuh Novanto.

    Untuk itu, ia juga berterima kasih atas segala sumbangsih yang diberikan oleh para guru. Yakni, para guru dalam arti yang luas, baik itu tenaga pengajar formal, informal, pendidik maupun mereka yang menjalankan aktivitas pengajaran dan pendidikan demi membangun kualitas kehidupan anak bangsa.

    "Begitu besar jasa kalian, hingga tak ternilai dengan apa pun. Begitu besar pengorbanan kalian, hingga kita sulit menghitungnya. Itulah kalian, Pahlawan tanpa Tanda Jasa," tutup Novanto.

    Ia mengutarakan, kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh mutu pendidikan. Pendidikanlah yang mengangkat harkat dan martabat, serta menyejajarkan Indonesia dengan bangsa-bangsa lain. Pendidikanlah yang membuka mata seseorang satu sama lain tentang dunia yang sedang dihadapi.

    Melalui Hari Guru yang diperingati pada 25 November setiap tahunnya, Setya Novanto hendak mengajak seluruh anak bangsa untuk merefleksikan peran guru sebagai salah satu Agen Perubahan (Agent of Change). Mengingat, tidak ada kemajuan tanpa diawali gerakan perubahan. Dan gerakan perubahan tidak lepas dari keterlibatan guru dalam segala aspek.

    WDA | ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.