Ironis, hingga Wafat Pencipta Hymne Guru Ini Masih Honorer

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jenazah Sartono, 79 tahun diangkat dari rumah duka untuk dibawa ke Tempat Pemakaman Umum Kelurahan Klegen, 1 November 2015. Pencipta Hymne Guru ini meninggal setelah 13 hari dirawat di RSUD Kota Madiun dan sempat dinyakatan koma selama dua hari. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    Jenazah Sartono, 79 tahun diangkat dari rumah duka untuk dibawa ke Tempat Pemakaman Umum Kelurahan Klegen, 1 November 2015. Pencipta Hymne Guru ini meninggal setelah 13 hari dirawat di RSUD Kota Madiun dan sempat dinyakatan koma selama dua hari. TEMPO/Nofika Dian Nugroho

    TEMPO.CO, Madiun - Hingga akhir hayat, mendiang Sartono, pencipta lagu Hymne Guru, belum menerima surat keputusan tentang pengangkatannya sebagai pegawai negeri sipil. Selain itu, pembayaran royalti seperti yang diwacanakan pemerintah juga belum terealisasi. Status Sartono masis guru honorer di sebuah sekolah menengah pertama partikelir di Madiun.

    "Sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali," kata Ignatia Damijati, 65 tahun, istri almarhum Sartono saat ditemui di rumahnya di Jalan Halmahera 98 Kelurahan Kartoharjo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu, 25 November 2015.

    Janji pemberian penghargaan, kata Damijati, pernah disampaikan Inspektur Jenderal Kemeneterian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah, Daryanto, saat menjeguk Sartono  di Rumah Sakit Umum Kota Madiun pada 31 Oktober 2015. Sartono menjalani perawatan medis karena mengalami komplikasi  gejala stroke, sakit jantung, kencing manis, dan penyumbatan pembuluh darah di otak.

    Karena penyakit tersebut, Sartono harus tergolek lemah di rumah sakit selama 13 hari. Hingga Ahad, 1 November 2015, ia meninggal dunia dan jenazahnya dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Kelurahan Klegen, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun.

    Ketika itu, Daryanto mengaku mengapresiasi  Hymne Guru yang diciptakan Sartono. Kementerian Pendidikan berjanji  memberikan penghargaan kepada Sartono, di antaranya pemberian royalti dan menerbitkan surat keputusan sebagai pegawai negeri sipil. "Kami akan sampaikan dulu ke Pak Menteri Anies Baswedan," ucap Daryanto.

    Meski Sartono telah menutup usia, Damijati berharap  Hymne Guru tetap mampu memberikan motivasi kepada para pendidik dalam menjalankan tugasnya. "Lagunya diakui sebagai aset negara dan sering dinyayikan, saya sudah merasa bangga dan berterima kasih," ucap Damijati yang juga pensiunan guru sekolah dasar di Kota Madiun.

    Damijati tidak terlalu banyak berharap kepada pemerintah ihwal pengangkatan Sartono sebagai pegawai negeri dan perihal pemberian royalti. Perempuan yang masih aktif dalam kesenian ketoprak ini hanya ingin Hymne Guru menjadi inspirasi para pelaku dunia pendidikan, terutama bagi guru yang memiliki hari khusus setiap 25 November.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?