Alasan KSAU Mengapa TNI AU Beli AW-101 Jadi Heli Jokowi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Helikopter AW101

    Helikopter AW101

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Agus Supriatna mengatakan, TNI AU akan membeli tiga helikopter untuk "very very important person" (VVIP) seperti yang telah tercantum dalam rencana strategis TNI Angkatan Udara periode 2015-2019.

    "Untuk sementara dengan anggaran renstra, kita akan membeli tiga unit helikopter untuk skadron udara VVIP," kata KSAU di sela-sela acara silaturahmi dan makan bersama media massa di Wisma Angkasa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 24 April 2015 malam.

    Menurut KSAU, rencana pembelian helikopter AW-101 yang canggih dan modern yang belakangan ramai disebut sebagai heli Jokowi itu murni merupakan hasil kajian dari Skadron Udara VVIP. Kemudian dikaji di Mabes TNI. "Setelah dikaji dengan baik, saya memutuskan untuk membeli helikopter VVIP. Ini merupakan hasil kajian kita," kata Agus.

    Terkait dengan permintaan agar helikopter itu dipasang antipeluru, kata KSAU, akan dilihat lagi anggarannya. Bila mencukupi, bisa saja dipasang antipeluru, anti-jamming, antirudal, dan lainnya. "Kalau helikopter Presiden AS dipasang segala macam, dengan anggaran bisa mencapai US$ 120 juta," kata Agus.

    Pembelian helikopter VVIP yang diperuntukkan bagi presiden, wakil presiden, pejabat tinggi negara, dan tamu negara itu lebih mengutamakan safety (keamanan) dan kenyamanannya. "Kalau tidak safe, dan nanti terjadi apa-apa, saya yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, saya minta agar helikopternya safe," tutur KASAU.

    Helikopter VVIP yang dibeli TNI ialah Agusta Westland AW-101. Ini adalah helikopter angkut menengah antikapal selam yang dapat digunakan untuk kepentingan militer dan sipil. Agusta Westland AW-101 dikembangkan oleh perusahaan patungan Westland Helicopters asal Inggris dan Agusta asal Italia. Helikopter ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan alat utama sistem senjata angkatan laut modern.

    Selama ini, sejumlah pejabat negara, termasuk Presiden RI, mengunakan Helikopter Super Puma yang dioperasikan oleh Skuadron 17 VIP TNI AU yang bermarkas di Pangkalan Udara Utama Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, sebelum kemudian dirawat dan dioperasikan oleh Skuadron 45 VIP yang juga bermarkas di Halim.

    Skuadron 17 dan 45 tersebut merupakan skuadron khusus yang menerbangkan pesawat-pesawat atau helikopter-helikopter untuk VIP dan VVIP. Skuadron 17 misalnya pernah membawa Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Ban Ki-moon dengan Boeing 737. Sedangkan Skuadron 45 mengkhususkan pada pengoperasian helikopter atau rotary wing aircraft.

    Agus Supriatna menegaskan, pengadaan helikopter antipeluru Agusta Westland AW-101 itu bukan oleh Sekretariat Negara (Setneg) seperti Helikopter Super Puma itu. "Heli Super Puma pengadaannya oleh Setneg, tapi dioperasionalkan oleh TNI AU," kata KSAU.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.