Proyek di Bangkalan Mandek karena Investor Takut, Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa mantan Bupati Bangkalan, Fuad Amin Imron menjalani sidang pembacaan amar putusan terhadap dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 19 Oktober 2015. Fuad Amin Imron dijatuhi hukuman selama Delapan Tahun penjara dengan denda Satu miliar subsider Enam bulan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Terdakwa mantan Bupati Bangkalan, Fuad Amin Imron menjalani sidang pembacaan amar putusan terhadap dirinya di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 19 Oktober 2015. Fuad Amin Imron dijatuhi hukuman selama Delapan Tahun penjara dengan denda Satu miliar subsider Enam bulan. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Bangkalan - Enam tahun setelah beroperasinya Jembatan Suramadu, investasi di Kabupaten Bangkalan, Madura, masih sepi. Bahkan proyek pembangunan Pelabuhan Socah yang digadang-gadang menjadi simbol kawasan industri Madura mandek sejak 2012. Penyebabnya, PT Madura Industrial Seaport City (MIS) yang akan menggarap pelabuhan tersebut bangkrut.

    Yasin Marseli, pengusaha properti di Bangkalan selaku kontraktor pengerukan lahan Pelabuhan Socah, mengeluh kesulitan mencari investor untuk meneruskan proyek pelabuhan peti kemas tersebut. "Saya sudah tawarkan ke beberapa investor, tapi mereka tidak mau karena takut," katanya, Minggu, 22 November 2015.

    Ketakutan investor itu, ucap Yasin, karena trauma masa lalu. Pada masa Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron, tidak hanya izin yang dipersulit, tapi juga banyak pungutan dan fee proyek tidak resmi. "Meski Fuad Amin sudah dihukum, iklim investasi di Bangkalan belum membaik," ujarnya.

    Tidak hanya kalangan pejabat, menurut Yasin, masyarakat juga menekan investor. "Kalau kita mau investasi di desa A, tokoh-tokohnya minta uang kalau mau proyek lancar," katanya.

    Bila kondisi ini tidak diperbaiki, Yasin yakin tidak akan ada investor yang mau menanamkan uangnya di Bangkalan. "Pengusaha itu mau usaha dengan tenang, harus ada jaminan keamanan dan permudah perizinan," ucapnya.

    Sekretaris Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bangkalan Mahmudi berpendapat serupa. Menurut politikus Partai Hati Nurani Rakyat ini, citra Bangkalan di kalangan pengusaha sangat buruk. Kesimpulan ini, ujar dia, muncul setelah dia bertemu dengan sejumlah investor di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Semua investor kompak takut berinvestasi di Bangkalan. "Bangkalan menakutkan bagi investor".

    Wakil Bupati Bangkalan Mondir Rofi'I memaklumi trauma para investor tersebut. Namun dia menilai sikap investor itu bukan sebuah ketakutan, tapi sebatas wait and see. "Bangkalan sedang masa peralihan dari pemerintah diktator ke pemerintahan yang terbuka," tuturnya.

    Menurut Ketua DPC Partai Kebangkitan Bangsa Bangkalan tersebut, daerah ini memang perlu banyak berbenah. Salah satunya harus membuat perizinan satu atap dengan regulasi yang membuat investor nyaman. Contohnya, dalam perizinan untuk hal-hal kecil, kewenangan bisa dialihkan kepada kepala dinas atau camat. "Jadi bupati jangan lagi disibukkan hal-hal kecil," ucapnya.

    Mondir meminta investor tidak lagi takut masuk Bangkalan. Penandatangan kerja sama antara Pemkab Bangkalan dan Badan Pengembangan Wilayah Surabaya beberapa waktu lalu di Universitas Trunojoyo adalah sinyal Bangkalan terbuka terhadap segala macam investasi.

    Dia meminta masyarakat mendukung pilihan pemerintah daerah mewacanakan Bangkalan sebagai kawasan industri. "Investor tidak perlu takut. Jadi, mulai tahun depan, sudah banyak investasi masuk," ujar Mondir.

    MUSTHOFA BISRI

    Baca juga:
    Selingkuh Bisnis-Politik Soal Freeport: Begini Nasib Setyo Novanto

    Setya Novanto Didesak Mundur: Bila Tak Mau, Ada Ancamannya

     



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Profil Ketua KPK Firli Bahuri dan Empat Wakilnya yang Dipilih DPR

    Lima calon terpilih menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi untuk periode 2019-2023. Firli Bahuri terpilih menjadi Ketua KPK.