Setya Novanto di MKD, Lolos Lagi seperti Kasus Donald Trump?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Setya Novanto dan Donald Trump (AP).

    Setya Novanto dan Donald Trump (AP).

    TEMPO.COJakarta - Mahkamah Kehormatan Dewan diminta tak mengulangi kesalahan dalam memutuskan sanksi untuk Ketua Dewan Perwakilan Setya Novanto terkait dengan kasus pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meminta saham kepada PT Freeport Indonesia.

    Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengatakan masyarakat saat ini masih belum bisa percaya kinerja MKD. Menurut dia, keputusan MKD yang tidak memberikan sanksi kepada Setya Novanto atas pertemuannya dengan kandidat calon Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menjadi preseden buruk bagi lembaga tersebut.

    Selain itu, MKD dianggap tertutup dalam setiap menangani kasus yang menyangkut anggota parlemen. Menurut Lucius, jika MKD masih bersikap tertutup, hal itu menunjukkan sejauh mana independensi dan seberapa kuat lembaga itu bisa menahan tekanan dan intervensi. "Sebab, Novanto adalah Ketua DPR, peluang kompromi dan intervensinya besar," katanya.

    Sebelumnya, Setya Novanto dilaporkan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan DPR. Setya dituding mencatut nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk meminta saham kepada PT Freeport Indonesia.

    Dalam laporannya, Sudirman menyerahkan transkrip dan rekaman pembicaraan Setya; Presiden Direktur PT Freeport Indonesia; dan importir minyak, Muhammad Riza Chalid. Dalam transkrip yang beredar menunjukkan ketiganya membahas rencana perpanjangan kontrak dan pembangunan smelter Freeport. Juga, membahas proyek pembangkit listrik Urumuka di Paniai, Papua. 

    Dari rekaman itu, tergambar bahwa Setya meminta imbalan 49 persen saham pembangkit listrik Urumuka. Dia juga mengatasnamakan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan agar ada pembagian 20 persen saham untuk Presiden dan Wakil Presiden.

    INDRA WIJAYA

    Baca juga:
    Selingkuh Bisnis-Politik Soal Freeport: Begini Nasib Setyo Novanto
    Setya Novanto Didesak Mundur: Bila Tak Mau, Ada Ancamannya

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.