Usai Asap Kini Banjir, Saatnya Simpan Air Gambut  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Operator mengoperasukan beberapa alat berat untuk pembuatan embung penampung air di lahan gambut bekas kebakaran di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, 9 Oktober 2015. BNPB melakukan pembangunan embung di lahan gambut yang berisiko kebakaran sebagai penampung air. ANTARA/FB Anggoro

    Operator mengoperasukan beberapa alat berat untuk pembuatan embung penampung air di lahan gambut bekas kebakaran di Desa Rimbo Panjang, Kampar, Riau, 9 Oktober 2015. BNPB melakukan pembangunan embung di lahan gambut yang berisiko kebakaran sebagai penampung air. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Ahli gambut dari Universitas Riau, Haris Gunawan, mengatakan musim hujan yang saat ini melanda Riau merupakan kesempatan menyimpan air di lahan gambut. Kesempatan ini sekaligus sebagai cara dan langkah mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

    Menurut Haris, pemerintah dan swasta mesti memaksimalkan pembangunan sekat kanal di kawasan gambut, agar intensitas air di lahan gambut tidak terbuang ke laut. “Pemerintah juga harus sibuk saat musim hujan kalau memang ingin mencegah kebakaran hutan,” kata Haris seusai Lokakarya Multi Pihak yang membahas solusi kebakaran hutan dan lahan yang diadakan Center for International Forestry Research (Cifor), Kamis malam, 19 November 2015, di Pekanbaru.

    Haris berujar, pembangunan sekat kanal merupakan solusi hilir dari kebakaran hutan dan lahan. Namun yang lebih penting, ucap dia, pemerintah dan swasta mesti melakukan perbaikan kubah gambut yang selama ini hilang akibat kanalisasi sehingga tidak mampu lagi menyimpan air. Alhasil, hutan gambut jadi mudah terbakar. “Pembangunan sekat kanal, koordinasi lintas sektor, dan sosialisasi mesti ditingkatkan saat musim hujan ini,” tuturnya.

    Haris menegaskan, musim hujan adalah waktu yang tepat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan, agar pemerintah tidak gagap dalam menghadapi musim panas. Terlebih cuaca panas akan kembali melanda Riau pada periode Januari-Februari nanti. “Jika gambut masih kering dan terbakar lagi, sebanyak apa pun pesawat pemadam yang dikerahkan tidak akan mampu mencegah bencana asap,” katanya.

    Kepala Dinas Kehutanan Riau Fadrizal Labay menyebutkan terdapat 2.934.488 meter atau 29 ribu kilometer panjang kanal yang membentang di seluruh h Riau. Sepanjang 5.250 kilometer di antaranya terdapat di hak guna usaha (HGU), 11 ribu kilometer di hutan tanam industri, dan 12.780 di area terbuka masyarakat.

    Namun, sejauh ini, baru terbangun 2.274 unit sekat kanal di lahan konsesi dan 80 unit sekat kanal di lahan terbuka masyarakat. Menurut Fadrizal, pembangunan sekat kanal akan terus dilakukan. Tapi persoalannya, tingkat elevasi dan kontur permukaan gambut di setiap wilayah tidak sama. Jadi tidak semua kanal dapat dibangun sesuai dengan jarak semestinya per 500 meter.

    Namun yang terpenting, ucap dia, tingkat permukaan air harus berada 40 sentimeter di bawah permukaan lahan gambut, agar lahan tetap basah. “Kami banyak melihat permukaan air berada 200 sentimeter di bawah gambut, sehingga lahan kering dan mudah terbakar,” ujarnya.

    Kebakaran hutan yang memicu kabut asap di Riau selama tiga bulan lamanya membuat aktivitas masyarakat lumpuh. Sekolah terpaksa diliburkan. Ribuan warga Riau pun terserang penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), bahkan enam di antaranya meninggal dunia.

    Tidak hanya berdampak buruk bagi kesehatan warga Riau, bencana asap juga mengakibatkan aktivitas perekonomian lumpuh. Sepanjang bencana asap, Riau mengalami kerugian lebih dari Rp 30 triliun. Kerugian turut dirasakan negara tetangga akibat asap kiriman, seperti Malaysia dan Singapura.


    RIYAN NOFITRA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?