OC Kaligis Dituntut 10 Tahun, Mata Velove Merah, Lalu...

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Artis sinetron Velove Vexia (kiri) berbincang dengan ayahnya OC Kaligis di dalam ruang tunggu Pengadilan Tipikor, Jakarta, 11 November 2015. Kehadiran Velove untuk melihat jalannya persidangan ayahnya dengan agenda pemeriksaan terdakwa OC Kaligis. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Artis sinetron Velove Vexia (kiri) berbincang dengan ayahnya OC Kaligis di dalam ruang tunggu Pengadilan Tipikor, Jakarta, 11 November 2015. Kehadiran Velove untuk melihat jalannya persidangan ayahnya dengan agenda pemeriksaan terdakwa OC Kaligis. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.CO, Jakarta - Artis Velove Vexia tersedu-sedu setelah mendengar jaksa penuntut umum membacakan tuntutan untuk ayahnya, Otto Cornelis Kaligis. Jaksa meminta hakim menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 10 tahun. "Dan denda Rp 500 juta subsider pidana kurungan pengganti selama 4 bulan," kata Jaksa penuntut umum Yudi Kristiana di Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jalan Bungur Besar, Kemayoran, Rabu, 18 November 2015.

    Menurut jaksa, Kaligis terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan tindak pidana korupsi terkait Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

    Velove yang berpakaian serba hitam itu, langsung meninggalkan ruangan sidang. Ia kemudian memeluk rekan yang menemaninya. Seusai persidangan, Velove masih menangis dan berusaha mendekati ayahnya.

    Ia mengikuti ayahnya yang diwawancara wartawan. Begitu pula ketika Kaligis ke kamar kecil sejenak. Velove menunggu di depan pintu. Kaligis keluar juga dengan mata memerah. Namun, ia tetap terlihat tegar dan mengomel lantaran tuntutannya berat. "Orang yang korupsi Rp 18 miliar saja, dituntut 2 tahun," ujarnya. Ia tak lama-lama menemui anaknya, Velove. Karena OC Kaligis harus segera ke tahanan.

    OC Kaligis adalah terdakwa kasus dugaan suap kepada majelis hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara Medan. Uang itu dimasukkan dalam amplop dan diselipkan dalam buku karangannya.

    OC Kaligis bersama M. Yagari Bhastara alias Gary, Gatot Pujo Nugroho, dan Evy Susanti memberikan uang kepada Tripeni Irianto Putro selaku Ketua PTUN Medan sekaligus ketua majelis hakim sebesar Sin$ 5.000 dan US$ 15 ribu, kepada Dermawan Ginting dan Amir Fauzi selaku anggota majelis hakim masing-masing sebesar US$ 5.000, serta Syamsir Yusfan selaku panitera PTUN Medan sebesar total US$ 2.000.

    Jaksa menduga Kaligis menyuap majelis hakim dan panitera untuk memengaruhi putusan mereka terkait gugatan kliennya PTUN Medan. Kliennya adalah Kepala Biro Keuangan Pemerintah Sumatera Utara Ahmad Fuad Lubis. Kaligis menggugat PTUN Medan atas pemanggilan Fuad oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara. Pemanggilan ini terkait kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial Provinsi Sumatera Utara tahun anggaran 2012 dan 2013.

    Dalam surat pemanggilan Fuad, tertera nama Gubernur Sumatera Utara--kini nonaktif--Gatot Pujo Nugroho sebagai tersangka. Gatot adalah klien OC Kaligis. Dialah yang meminta Kaligis mendampingi Fuad, anak buahnya itu, ke PTUN Medan. Uang suap Kaligis juga diduga berasal dari Gatot dan istri mudanya, Evy Susanti.

    Dua hari setelah hakim PTUN memutus perkaranya, KPK menangkap tangan lima orang di Medan, 9 Juli 2015. Mereka adalah ketiga majelis hakim dan seorang panitera, serta pengacara dan anak buah Kaligis, M. Yagari Bhastara Guntur alias Gary.

    Seminggu berikutnya, penyidik menemukan bukti keikutsertaan OC Kaligis. Ia ikut digelandang ke KPK pada 14 Juli 2015. Pada hari itu juga, OC Kaligis menjadi tahanan KPK. Pengacara kondang ini menjalani sidang dakwaan pada 31 Agustus 2015.

    REZKI ALVIONITASARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Mengering di Sana-sini

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mengeluarkan peringatan dini bahaya kekeringan untuk wilayah Provinsi Banten dan Provinsi DKI Jakarta.