Minggu, 22 September 2019

Tuban Bangun Tanggul Bengawan Solo Sepanjang 25 Kilometer

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga menunggui rumahnya yang dilanda banjir tahunan akibat luapan anak sungai Bengawan Solo di kabupaten Gresik, Jawa Timur, 7 Februari 2015. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    Warga menunggui rumahnya yang dilanda banjir tahunan akibat luapan anak sungai Bengawan Solo di kabupaten Gresik, Jawa Timur, 7 Februari 2015. TEMPO/Artika Rachmi Farmita

    TEMPO.CO, Tuban - Pemerintah Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sedang membangun tanggul di bantaran Sungai Bengawan Solo. Tanggul dibangun di 11 desa, di dua kecamatan yang rawan bencana banjir luapan Sungai Bengawan Solo.

    Tanggul sepanjang 25 kilometer ini dibangun dari pinggir sungai di perbatasan Bojonegoro hingga Tuban, yang melewati dua kecamatan dan 11 desa, yaitu di Kecamatan Rengel, dengan Desa Sumberejo, Kanorejo, Tambakrejo, Ngadirejo, dan Karangtinoto.

    Sedangkan, di Kecamatan Soko, terdapat enam desa, seperti Desa Glagahsari, Simorejo, Sokosari, dan Rahayu—yang berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro.

    Daerah itu berlokasi tepat di pinggir Sungai Bengawan Solo dan jadi sasaran banjir puluhan tahun lamanya akibat tidak ada tanggulnya.

    Proyek tanggul awalnya hanya sepanjang 19,8 kilometer, yang menghubungkan kawasan pinggir sungai antara Kecamatan Soko dan Rengel, Tuban.

    Pembebasan lahannya dimulai Februari 2015 silam. Tapi, proyeknya diubah dan panjang tanggul kemudian menjadi 25 kilometer di bantaran Sungai Bengawan Solo.

    Pembebasan lahan di tanggul dengan tinggi tiga meter dan panjang mencapai 25 meter hingga 30 meter ini, menghabiskan dana sebesar Rp 6,3 miliar.

    Selain itu, ada anggaran untuk konstruksi sebesar Rp 60 miliar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tuban dan APBD Jawa Timur.

    Menurut Camat Rengel Mahmud, proses pembebasan lahan sudah dimulai dalam beberapa bulan ini. Ada perubahan panjang tanggul dari sebelumnya 19,8 kilometer menjadi 25 kilometer.

    Tim pembebasan lahan sudah berjalan dan dalam proses appraisal atau penilaian dan perkiraan untuk ganti rugi harga tanah. “Tim sudah jalan,” ujarnya pada Tempo, Rabu, 18 November 2015.

    Dia mencontohkan lima desa di Kecamatan Rengel yang terkena proyek tanggul bantaran Sungai Bengawan Solo adalah daerah rawan banjir. Penyebabnya, selain karena daerah rendah, juga di pinggir sungai tidak ada tanggul penahan luapan air.

    Sehingga jika sungai meluber, dipastikan lima desa terendam banjir cukup lama. “Ya, memang daerah banjir,” tuturnya. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban Joko Ludiono mengatakan program pembangunan tanggul sudah mulai berjalan dan kini total panjang 25 kilometer.

    Proyek ini ditangani Dinas Pekerjaan Umum dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air untuk wilayah Bengawan Solo.”Lokasi tanggul ini tepat untuk antisipasi banjir,” ujarnya pada Tempo, Rabu, 18 November 2015.

    Dia menyebutkan, proyek tanggul ini juga akan menyambung jalur pinggir Sungai Bengawan Solo, yang melintas di Kecamatan Rengel, Plumpang, hingga Widang.

    Apalagi daerah Widang juga kawasan rawan banjir, terutama di beberapa desa, seperti Desa Simorejo, Simorejo, Sumberejo, Ngadireo, Tegalsari, dan Tegalrejo. Tapi, sebagian di daerah tersebut sudah ditanggul.

    SUJATMIKO 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.