Dengan Mata Merah, Setya Novanto Bantah Catut Nama Jokowi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Setya Novanto. (ILUSTRASI: TEMPO/IMAM YUNNI)

    Ilustrasi Setya Novanto. (ILUSTRASI: TEMPO/IMAM YUNNI)

    TEMPO.COJakarta - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto hadir di Kompleks Parlemen Senayan pada pukul 09.30. Turun dari mobilnya, ia langsung dikerumuni awak media yang sejak pagi menunggunya memberikan tanggapan atas laporan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan.

    "Pagi-pagi udah ngantor, nih," sapa Setya Novanto sambil membetulkan jas yang dipakainya. Tanpa basa-basi, wartawan langsung memberondongnya dengan berbagai pertanyaan yang menyangkut laporan Sudirman Said ke MKD itu.

    Dengan suara parau dan bergetar, Setya berusaha melayani pertanyaan yang dilontarkan wartawan, terkait dengan pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam proses negosiasi yang diduga dilakukannya dengan bos Freeport dan pengusaha berinisial MRC.

    "Yang pertama, saya melihat di media bahwa saya membawa atau mencatut nama Presiden," kata Setya. Sambil menghela napas, ia melanjutkan jawabannya. "Tapi yang jelas bahwa Presiden dan Wakil Presiden itu adalah simbol negara yang harus kita hormati, yang juga harus kita lindungi," kata Setya Novanto di Komplek Parlemen Senayan pada Selasa, 17 November 2015.

    Dalam penjelasannya, Setya Novanto membantah bahwa ia telah mencatut nama Presiden, terlebih menggunakannya untuk mendapatkan saham di Freeport. "Jadi, menurut pendapat saya, saya juga tidak akan membawa nama-nama yang bersangkutan (Presiden dan Wakil Presiden) dan juga saya harus berhati-hati, dan harus menyampaikan secara jelas apa yang telah disampaikan Presiden kepada saya," ujar Novanto.

    Dalam memberikan jawaban kepada wartawan, terlihat sesekali tangan Novanto—yang sedari awal memegang sebuah kertas kecil seperti kartu nama—bergetar. Selain itu, matanya terlihat memerah seperti sembap.

    Menghadapi kenyataan dirinya dua kali dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan, Setya Novanto memilih pasrah dan percaya bahwa MKD akan mengusut kasusnya secara adil sesuai tata cara undang-undang. "Saya menghargai MKD. Sejak awal MKD tegas dan mempunyai fungsi secara baik, dan menjalankan tugas secara baik. Tentu ini adalah suatu kewibawaan MKD kepada anggota DPR. Saya betul-betul menghargai dan mematuhi MKD untuk menindak segala sesuatu kepada anggota DPR," tutur politikus Partai Golkar ini.

    Setelah memberikan keterangan pers, Setya Novanto langsung balik badan dan meninggalkan kerumunan awak media diiringi pasukan pengawalnya.

    DESTRIANITA K.

    Baca juga:
    Teror Paris: Inilah 5 Kejadian Baru yang Menegangkan!
    Wah, Depok Favorit bagi Kaum dengan Gaya Bercinta Berbahaya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.