Sebut Pencatut Jokowi, Fahri Hamzah Kritik Menteri ESDM  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fahri Hamzah. TEMPO/Imam Sukamto

    Fahri Hamzah. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.COJakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah meminta Menteri Sudirman Said untuk berfokus pada pemanfaatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016. "Sudirman Said sebaiknya berfokus saja pada pekerjaannya," kata Fahri di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 16 November 2015.

    Fahri menilai Sudirman sebaiknya bekerja pada wilayah kerjanya. Ia mengatakan, dengan baru disahkannya APBN 2016, Sudirman perlu berfokus pada pemanfaatannya. Ia meminta Sudirman tidak membesar-besarkan masalah ini.

    Menurut Fahri, masalah ini adalah obrolan di belakang layar yang dibesar-besarkan. Sebagai pejabat sekelas menteri, ia menilai tidak layak bagi Sudirman untuk berkoar-koar terkait dengan hal ini. Ia justru mempertanyakan seperti apa bentuk pencatutan nama yang dimaksud Sudirman.

    Hari ini Menteri ESDM Sudirman Said melaporkan anggota DPR yang mencatut nama Presiden Joko Widodo ke Mahkamah Kehormatan Dewan. Dalam laporan ini, Menteri ESDM juga mengaku memiliki laporan mengenai pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden RI.

    Beberapa waktu lalu, Sudirman Said menyatakan ada tokoh politik yang mencoba menjual nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla kepada Freeport. Sayangnya, ia enggan menyebutkan siapa nama anggota Dewan tersebut.

    Menurut Sudirman, politikus itu mencatut nama Presiden dan Wakil Presiden kepada Freeport untuk memuluskan renegosiasi kontrak dan menjanjikan dapat memperpanjang izin kontrak karya perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu.

    Sudirman juga mengatakan orang itu cukup terkenal. Bahkan, menurut Sudirman, Wakil Presiden Jusuf Kalla tahu persis siapa orang yang coba menyeret-nyeret namanya.

    Menurut Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), laporan ini akan ditindaklanjuti dan diproses. Paling lambat 14 hari setelah laporan diterima, MKD akan mengeluarkan keputusan selanjutnya.

    MAWARDAH NUR HANIFIYANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.