Palopo Tertibkan Apotek Nakal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dailymail.co.uk

    Dailymail.co.uk

    TEMPO.CO, Palopo – Dinas Kesehatan Kota Palopo berjanji akan segera turun melakukan penertiban apotek nakal yang menjual obat daftar G tanpa resep dokter. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palopo Ishak Iskandar mengatakan pihaknya akan segera mencabut izin apotek yang berani menjual obat daftar G tanpa resep dokter. “Pasti izinnya kami cabut. Kan, sudah kami sosialisasi dan sampaikan ke semua apotek di Palopo tentang aturan menjual obat-obat yang masuk dalam daftar G,” ucap Ishak, Senin, 16 November 2015.

    Untuk penertiban apotek, Dinas Kesehatan akan berkoordinasi dengan Kepolisian Resor Palopo, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Makassar, serta Satuan Polisi Pamong Praja. Apotek yang terbukti melanggar tidak lagi diberikan teguran, tapi akan langsung ditindak berupa pencabutan izin operasional.

    “Penindakan apotek nakal bukan satu-satunya upaya yang kami lakukan untuk memutus bebasnya peredaran obat daftar G, tapi kami juga meminta peran aktif orang tua dan lingkungan sekolah untuk memantau anak-anaknya,” ujarnya.

    Ishak juga mengakui bahwa masih ada beberapa apotek di Palopo yang tidak memiliki tenaga apoteker, padahal aturannya sudah jelas: apotek harus dikelola apoteker.

    Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Sulawesi Selatan Guntur menuturkan telah memerintahkan Inspektur Bidang Pemeriksaan agar mengecek dan memastikan semua apotek di Palopo sudah bekerja sesuai dengan standar atau belum. “Apotek sudah diberikan izin dan kewenangan penuh untuk menjual semua jenis obat dan melayani pasien atau konsumen, tapi harus dengan resep dokter,” kata Guntur.

    Kepala Satuan Narkotika Kepolisian Resor Palopo Ajun Komisaris Ade Kristian Manapa berujar, apotek yang menjual obat daftar G tanpa resep dokter sudah terdeteksi. Hanya saja, ucap dia, polisi tidak dapat melakukan penindakan karena apotek tersebut punya izin menjual obat. “Yang berhak melakukan tindakan hanya Dinas Kesehatan. Izinnya harus dicabut dulu. Polisi tidak dapat bertindak karena mereka punya izin,” tutur Ade.

    Dia menjelaskan, para remaja yang terlibat kasus kriminal, seperti pencurian, perkelahian, dan balapan liar, rata-rata mengkonsumsi obat-obat keras, seperti Somadril, Dextro, dan Tramadol. Obat-obat tersebut masuk dalam daftar G atau obat bebas terbatas.

    HASWADI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.