Sebelum Dokter Andra Meninggal, Begini Firasat Orang Tua  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek melihat Jenazah dokter Dionisius Giri Samudra atau Andra tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 13 November 2015. Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kepada Andra dengan penghargaan Ksatria Bakti Husada. TEMPO/ Marifka Wahyu Hidayat

    Menteri kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek melihat Jenazah dokter Dionisius Giri Samudra atau Andra tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, 13 November 2015. Kementerian Kesehatan memberikan penghargaan kepada Andra dengan penghargaan Ksatria Bakti Husada. TEMPO/ Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Tangerang Selatan - Orang tua dokter muda Dionisius Giri Samudra atau Andra mengaku sempat mendapat firasat sebelum sang anak meninggal karena terserang penyakit insefalitis pada Rabu, 11 November lalu. "Dia (Andra) sempat meminta tidur bersama dengan ibu dan adiknya," kata Agustinus Mujianto, ayah Andra saat ditemui di rumahnya, Sabtu, 14 November 2015.

    Bagi Agustinus, itu adalah aktivitas yang jarang dilakukan oleh Andra. Menurut dia, anak keduanya itu adalah pria yang sangat mandiri. Momen tersebut adalah kali pertama ia meminta didekap ibu dan adiknya pada saat terakhir kali berada di rumah.

    Saat tertidur di pelukan sang ibu, Fransisca, dokter Andra yang sedang menjalani masa program internship itu mengatakan kalimat yang mengetuk hati ibunya. "Kalau nanti saya ada apa-apa (di Dobo) relakan ya, Bu," tutur Agustinus menirukan Fransisca yang sempat bercerita kepadanya.

    Saat itu, Fransisca tak menanggapi serius ucapan anaknya itu dan tetap memeluk Andra dalam tidur. Momen itu adalah saat-saat terakhir kalinya Fransisca merasa dekat dengan anaknya. Pantas saja, mereka sudah lima bulan tak bertemu, setelah mendapat tugas di Kepulauan Aru pada Mei lalu.

    Andra sendiri izin cuti dan pulang ke Tangerang Selatan sejak pertengahan Oktober lalu. Dia berada di rumah selama sepuluh hari. Saat berada di rumah ia menghabiskan waktu dengan keluarga dan mengurus elektronik paspor. Karena rencananya, pada Natal Desember mendatang, satu keluarga berniat berlibur ke Singapura.

    Pada Kamis, 5 November Andra berangkat ke Dobo menggunakan pesawat hingga menuju Tual. Di dalam pesawat dia sudah dalam keadaan sakit. Sesampainya di Tual, Andra naik kapal barang menuju Dobo. Karena saat itu kapal fery sedang tidak beroperasi. Sesampainya di Dobo, ia langsung dilarikan oleh rekannya ke RSUD Cendrawasih untuk mendapat perawatan medis.

    Nahasnya, kondisi tubuh Andra semakin menurun. Sejak Minggu, 8 November hingga Rabu, 11 November ia mengalami kritis. Kesadarannya menurun drastis. Hingga pada akhirnya pada Rabu petang ia dinyatakan meninggal oleh dokter karena infeksi otak yang disebabkan virus campak.

    AVIT HIDAYAT

    Baca juga:
    TEROR PARIS: 5 Fakta Penting yang Perlu Anda Tahu


    Tujuh Alasan Paris Menjadi Sasaran Serangan Teror Ekstremis


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.