Ada 3 Titik Rawan Longsor di Jalur Kereta Jawa Barat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah pekerja melakukan perbaikan rel kereta api yang longsor di Bojongkoneng, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Senin (8/4). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Sejumlah pekerja melakukan perbaikan rel kereta api yang longsor di Bojongkoneng, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Senin (8/4). TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Humas PT Kereta Api Daerah Operasi II Bandung Zunerfin mengatakan ada tiga daerah sepanjang lintasan kereta di wilayahya yang rawan tanah longsor saat musim hujan. Ketiga lokasi itu berada di Ciganea, Kabupaten Purwakarta; Bumi Waluya, Kabupaten Garut; dan Cibeber, Kabupaten Cianjur.

    “Kami masih terus mengidentifikasi titik-titik rawan lainnya,” katanya saat dihubungi Tempo, Kamis, 12 November 2015.

    Di wilayah Ciganea, titik rawan tanah longsor berada di KM 107 karena adanya penambangan pasir di bagian atas jalur rel kereta api. “Penambangan pasir itu mengakibatkan daerahnya rawan. Lokasinya, kalau dari Bandung, sebelum Purwakarta,” ujarnya. Kementerian Perhubungan memutuskan menggeser jalur kereta di daerah Ciganea itu ke daerah yang lebih stabil. “Tahap pengerjaannya sudah dimulai, masih berjalan.”

    Titik rawan berikutnya adalah di Bumi Waluya serta Cibeber. Dua lokasi itu rawan tanah longsor karena tanahnya labil. “Cibeber dan Bumi Waluya itu sama, terjadi pergerakan tanah, pegeseran,” ujarnya. Dia mengatakan PT Kereta Api Indonesia terus memantau pergeseran tanah tersebut.

    Menurut Zunerfin, khusus di Bumi Waluya, pemantauan pergeseran rel itu akan bekerja sama dengan peneliti dari Institut Teknologi Bandung. “Mereka sekaligus meneliti pergerakan tanah di sana,” ujarnya. Sedangkan di Cibeber, pengukuran rutin dilakukan PT Kereta Api.

    Zunerfin mengatakan PT Kereta Api juga menambah Petugas Pemeriksa Jalur untuk memeriksa seluruh rel kereta. Pemeriksaan dilakukan pada pagi hari sebelum kereta pertama melintas dan malam hari sebelum kereta terakhir lewat di jalur itu. “Itu yang reguler. Tapi, begitu masuk ke cuaca hujan lebih dari 30 menit, petugas mengecek lagi,” katanya.

    AHMAD FIKRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.